Minggu, 24 Februari 2013

karya ilmiah SEJARAH ASAL MULA KOTA BOJONEGORO SEBAGAI BUMI ANGLING DHARMA


SEJARAH ASAL MULA KOTA BOJONEGORO SEBAGAI BUMI ANGLING DHARMA

Disusun  Oleh :
1.      Henny Rosinta
2.      Ria Vilda S.N
3.      Siti Nur Alfiyah



















\

LAMPIRAN 1 (SURST PERNYATAAAN)
LEMBAR PERNYATAAN
            Kami yang bertanda tangan dibawah ini:
1.      Nama               : Henny Rosinta
Alamat             : Ds. Balenrejo, Balen, Bojonegoro
2.      Nama               : Ria Vilda S.N
Alamat             : Ds. Kedung Bondo, Balen, Bojonegoro
3.      Nama               : Siti Nur Alfiyah
Alamat             : Ds. Sumuragung, Sumberrejo, Bojonegoro

Dengan ini menyatakan bahwa kami adalah penulis/inventor dari karya tulis ilmiah yang berjudul:
“SEJARAH ASAL MULA DAN PERKEMBANGAN KOTA ANGLING DARMA” yang kami ajukan untuk dapatmengikuti lomba VOC (Voice of History Competition) dan menyatakan bahwa karya tulis ilmiah tersebut benar-benar merupakan hasil ide orsinil dan pengembangan (studi pustaka) kami sendiri dan bukan merupakan invensi/karya tulis orang lain atau hasil penjiplakan dari invensi/karya tulis oramglain.
Apabila ada konsekuensi hokum akibat adanya tuntutan dari pihak lain yang merasa dijiplak , maka akan menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya.

                                                                                             Surabaya, 20 November 2012




Henny Rosinta




Ria Vilda S.N




Siti Nur Alfiyah








LAMPIRAN 2 (FORMULIR PENDAFTARAN)
FORMULIR PENDAFTARAN AIRLANGGA IDEAS COMPETITION

1.      Judul Karya                              : Sejarah Asal Mula Kota Bojonegoro sebagai Kota  
                                                   Angling Dharma
2.      Ketua Tim                                : Henny Rosinta
a.       Nama Lengkap                   : Henny Rosinta
b.      NIS                                    : 312
c.       Jurusan                               : IPA
d.      SMA/MA                          : SMA
e.       Tempat, tanggal Lahir         : Bojonegoro, 28 Oktober 1994
f.        Jenis Kelamin                     : Perempuan
Alamat/Domisili                        : Ds. Balenrejo, Balen, Bojonegoro
g.       No. Telepon/HP                 : 085259959233
h.       Email                                  : Oci.henny@yahoo.com
3.      Anggota 1
a.       Nama Lengkap                   : Ria Vilda S.N
b.      NIS                                    : 255
c.       Jurusan                               : IPA
d.      SMA/MA                          : SMA
e.       Tempat, tanggal Lahir         : Tuban, 28 Oktober 1995
f.        Jenis Kelamin                     : Perempuan
g.       Alamat/Domisili                  : Ds. Kedung Bondo, Balen, Bojonegoro
h.       No. Telepon/HP                 : 085733533524
i.         Email                                  : ida.ria82@yahoo.com
4.       Anggota 2258
a.       Nama Lengkap                   : Siti Nur Alfiyah
b.      NIS                                    : 258
c.       Jurusan                               : IPA
d.      SMA/MA                          : SMA
e.       Tempat, tanggal Lahir         : Bojonegoro, 05 Mei 1996
f.        Jenis Kelamin                     : Perempuan
g.       Alamat/Domisili                  : Ds. Sumuragung, Sumberrejo, Bojonegoro
h.       No. Telepon/HP                 : 082141124366
i.         Email                                  : Alfiyah.sitinur@gmail.co.id
                          




LAMPIRAN 3 (HALAMAN PENGESAHAN)
HALAMAN PENGESAHAN

1.      Judul                                                    : Sejarah Asal Mula Kota Bojonegoro sebagai Bumi   
                                                               Angling Dharma
2.      Ketua Kelompok                                  : Henny Rosinta
a.       Nama Lengkap                               : Henny Rosinta
b.      NIS                                                : 312
c.       Jurusan                                           : IPA
d.      SMA/MA                                      : SMA
e.       Alamat Rumah dan No Tel./HP       : Ds. Balenrejo, Balen, Bojonegoro
i.         Alamat email                                   : Oci.henny@yahoo.com
3.      Anggota Kelompok/Penulis                   : Ria Vilda S.N dan Siti Nur Alfiyah
4.      Guru Pembimbing
a.       Nama Lengkap dan Gelar               :
b.      NIP                                                :
c.       Alamat Rumah dan No Tel./HP       :


Guru Pembimbing





Ketua Kelompok

Mengetahui,
Kepala Sekolah












KATA PENGANTAR

     Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena kehendak-NyaPuji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena kehendak-Nyalah karya ilmiah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
     Penulis karya ilmiah ini bertujuan untuk mengikuti Voice Of History Competition (Voc). Selain itu, tujuan penulis dalam penulisan karya ilmiah ini adalah menginformasikan Sejarah Asal Mula Kota Bojonegoro Sebagai Bumi Angling Dharma .
     Dalam penyelesaian karya ilmiah ini, penulis banyak mengalami kesulitan terutama dikarenakan waktu yang terlalu singkat dalam melakukan penelitian di Kota Bojonegoro dan sumber literatur yang sulit didapatkan. Namun berkat bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya karya ilmiah ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Balen
2.      Guru Sejarah Nelly Anugrawati, S.Pd
3.      Teman-teman dari peneliti
4.      Semua teman-teman SMA Negeri 1 Balen
     Penulis menyadari, sebagai seorang pelajar yang pengetahuannya belum seberapa, karya ilmiah ini  masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritikan dan saran yang positif agar karya ilmiah ini menjadi lebih baik dan berguna bagi pembaca.
     Harapan penulis, mudah- mudahan karya ilmiah yang sederhana ini bermanfaat untuk semua kalangan.



                                                                                       TIM PENYUSUN











DAFTAR ISI
Halaman Judul…………………………………………………………………..i
Lembar Pernyataan……………………………………………………………..ii
Formulir Pendaftaran Airlangga Ideas Competition…………………………...iii
Halaman Pengesahan…………………………………………………………..iv
Kata Pengantar…………………………………………………………………v
Daftar Isi……………………………………………………………………….vi
BAB 1 Pendahuluan
1.1  Latar Belakang………………………………………………………………1
1.2  Rumusan Masalah…………………………………………………………..1-2
1.3  Batasan Masalah……………………………………………………………..2
1.4  Tujuan Penelitian…………………………………………………………….2
1.5  Manfaat Penelitian……………………………………………………………2
BAB II Landasan Teori
2.1 Pengertian Sejarah……………………………………………………………3
2.2 Deskripsi Kota Bojonegoro…………………………………………………..4
2.3 Sejarah Kota Bojonegoro…………………………………………………….5-6
BAB III Metode Penelitian ……………………………………………………..7-8
BAB IV Hasil Penelitian
4.1 Hasil Observasi dan Studi Pustaka…………………………………………9-10
BAB V Pembahasan
5.1 Sejarah Asal Mula Kota Bojonegoro sebagai Kota Angling Dharma………11-12
5.2 Cara Meningkatkan minat generasi muda terhadap budaya Kota
Bojonegoro…………………………………………………………………13
BAB VI Penutup
6.1 Kesimpulan………………………………………………………………14
6.2 Saran……………………………………………………………………..14
Daftar Rujukan……………………………………………………………….16
Lampiran………………………………………………………………………16
SEJARAH ASAL MULA KOTA BOJONEGORO SEBAGAI BUMI ANGLING DHARMA
ABSTRAK
      Angling Dharma sudah menjadi hal yang sangat dekat  dengan masyarakat Bojonegoro entah sejak kapan hal itu. Yaang pasti kabupaten Bojonegoro dinamai sesuai nama kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Angling Dharma. Bojonegoro sendiri bukan tanpa alasan menyebut kerajaan malwapati berada di wilayahnya. Duaa situs utama diyakini ada hubungannya dengan mitos Angling Dharma yakni jejak Angling Dharma di desa Wotangare, Kalitidu, Bojonegoro serta Kayangan Api sebagai sumber api abadi dan merupakan tempat empu Malwapati. Dikedua situs ditemukan banyak benda purbakala yang menurut Balai Sejaarah merupakan sisa benda zaman Majapahit. Malwapati sendiri dipercaya merupakan pecahan kerajaan Majapahit.
     Penulis mengajak pembacaa untuk mengidentifikasi sejarah lokal yang melekat di masyarakat Bojonegoro. Dengan demikian penulis mencoba menyingkirkan dahulu perdebatan history kisah Angling Dharmaa berasal. Berdasarkan haasil penelitian yang dilakukan penulis, dapat disimpulkan bahwa kerajaan Majapahit memang dahulu ada. Berdasarkan bukti-bukti jejak Angling Dharma dan kerajaan Malwaapati di desa Wotangare, Kalitidu, Bojonegoro.
     

















BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang

             Pada zaman modern seperti ini sebagian besar anak usia remaja di Bojonegoro sudah tidak mengenal sejarah kota mereka. Mereka tidak peduli dengan asal usul kota mereka sendiri. Bahkan,  mereka cenderung mempelajari budaya barat. Jika keadaan ini berlangsung terus menerus, keberadaan budaya sendiri semakin  memprihatinkan. Mereka berpikir sejarah itu tidak penting dan tidak perlu diingat-ingat. Padahal sejarah itu merupakan suatu pengetahuan yang penting dalam kehidupan suatu daerah. Dengan mempelajari sejarah, kita akan mendapat gambaran tentang kehidupan masyarakat dimasa lampau atau mengetahui berbagai peristiwa dan kejadian yang terjadi masa lampau. Peristiwa atau kejadian itu selanjutnya dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan masyarakat dimasa yang akan datang. Seharusnya kita sebagai generasi muda harus lebih mengenal, menjunjung tinggi dan melestarikan sejarah di daerah kita.
     Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan  bahwa permasalahan yang terjadi adalah kurangnya pengetahuan generasi muda terhadap sejarah Kota Bojonegoro. Hal ini dibuktikan  dengan menurunnya minat generasi muda mengunjungi tempat-tempat wisata peninggalan di Kota Bojonegoro, seperti: wisata Kayangan Api, Meliwis Putih dan Musium Rajekwesi. Oleh karena itu, penulis ingin menumbuhkan minat generasi muda terhadap sejarah Kota Bojonegoro.
     Dengan demikian, penulis akan menumbuhkan minat generasi muda tentang sejarah Kota Bojonegoro melalui karya ilmiah  yang berjudul “Sejarah Asal Mula Kota Bojonegoro sebagai Bumi Angling Dharma”.
1.2 Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimaana asal mula Kota Bojonegoro sebagai Bumi Angling Dharma?
1.2.2 Bagaimana solusi untuk mengatasi kurangnya minat generasi muda terhadap sejarah Kota Bojonegoro?
1.3 Batasan Masalah
     Berdasarkan rumusan masalah tersebut, karya ilmiah ini hanya membahas tentang asal usul Kota Bojonegoro sebagai Bumi Angling Dharma dan solusi untuk mengatasi kurangnya minat generasi muda terhadap sejarah Kota Bojonegoro.
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Mendeskripsikan asal mula Kotaa Bojonegoro sebagai Bumi Angling Dharma.
1.4.2 Mengetahui solusi untuk mengatasi kurangnya minat generasi muda terhadap sejarah Kota Bojonegoro.
1.5 Manfaat Penelitian
     Dengan mengetahui sejarah asal mula Kota Bojonegoro dapat menumbuhkan minat generasi muda untuk mengenal, mempelajari dan melestarikan budaya daerah sendiri. Pepatah mengatakan “Tak kenal maka tak sayang” dalam hal ini diartikan  jika kita mengenal sejarah daerah sendiri, pasti kita juga akan bangga dan akan melestarikan budaya daerah sendiri.








BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Sejarah
2.1.1 Sejarah adalah ceritan tentang perubahan-perubahan, kejadian atau peristiwa dalam kenyataan disekitar kita. Selain iti sejarah juga diartiakan ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan kejadian dan peristiwa dalam kenyataan disekitar kita. ( Moh. Ali )
2.1.2 Sejarah adalah ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan. ( Prof. H. Moh. Yamin S.H )
2.1.3 Sejarah adalah gambaran manusia masa lalu dan sekitarnya sebagai makhluk social yang disusun secara ilmiah dan lengkap, meliputi urutan fakta masa tersebut dan tafsiran dan penjelasan yang memberikan pengertian dan kepahaman tentang ap yang telah berlaku. ( Sidi Gazalba )
2.1.4 History is the study of human begingd have done ( sejarah adalah ilmu yang mempelajari apa yang telah diperbuat oleh manusia. ( Patrick Gardiner )
2.1.5 Sejarah adalah catatan-catatan dari apa yang telah dipikirkan, dikatakan dan diperbuat oleh manusia. ( J.V Bryce )
2.1.6 Sejarah adalah ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan dimasa lampau beserta kejadian-kejadian dengan maksud untuk menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya tersebut, untuk selanjutnya dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan sekarang, serta arah progress masa depan. ( Dr. H. Roeslan Abdulgani )
2.1.7 History is a significant narrative of human actions and experiences in the past ( sejarah adalah catatan yang berarti dan penting dari timdakan dan pengalaman masa lalu manusia ). (W.H. Walsh )
2.1.8 Sejarah berarti kejadian dan peristiwa tang benar-benar terjadi pada masa lampau.
Sejarah berarti ilmu pengetahuan cerita pelajaran tentang kejadian atau peristiwa ynag benar-benar terjadi dimasa lampau. ( Kamus Besar Bahasa Indonesia )
Dwi Ari Listiyani. 2009. Sejarah 1 : Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Depatermen Pendidikan Nasional (BSE)
2.2 Deskripsi Kota Bojonegoro
       Kabupaten Bojonegoro memiliki luas sejumlah 230.706 Ha, dengan jumlah penduduk sebesar 1.176.386 jiwa merupakan bagian dari wilayah propinsi Jawa Timur dengan jarak ± 110 Km dari ibukota Propinsi Jawa Timur. Topografi Kabupaten Bojonegoro menunjukkan bahwa di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo merupakan daerah dataran rendah, sedangkan di bagian Selatan merupakan dataran tinggi disepanjang kawasan Gunung Pandan, Kramat dan Gajah.
      Secara geografis bojonegoro terletak pada 111º25' dan 112º09' BT dan 6º59' dan 7º37' LS
Di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tuban. pada sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Lamongan, pada sisi selatan berbatasan dengan Kabupaten Madiun, Nganjuk dan Jombang, sedangkan di sisi bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Ngawi dan Blora (Jawa Tengah).Letak Kabupaten Bojonegoro secara geografis terbelah oleh sungai Bengawan Solo. Bengawan Solo mengalir dari selatan, menjadi batas alam dari Provinsi Jawa Tengah, kemudian mengalir ke arah timur, di sepanjang wilayah utara Kabupaten Bojonegoro. Bagian utara merupakan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo yang cukup subur dengan pertanian yang ekstensif. Kawasan pertanian umumnya ditanami padi pada musim penghujan, dan tembakau pada musim kemarau. Bagian selatan adalah pegunungan kapur, bagian dari rangkaian Pegunungan Kendeng. Bagian barat laut (berbatasan dengan Jawa Tengah) adalah bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara.Kota Bojonegoro terletak di jalur Surabaya-Cepu-Semarang. Kota ini juga dilintasi jalur kereta api jalur Surabaya-Semarang-Jakarta.Kabupaten Bojonegoro terdiri atas 27 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 419 desa dan 11 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Bojonegoro.


2.3 Sejarah Kota Bojonegoro
      Masa kehidupan sejarah Indonesia kuno ditandai oleh pengaruh kuat kebudayaan Hindu yang datang dari India sejak abad I yang membedakan warna kehidupan sejarah Indonesia jaman Madya dan jaman Baru. Sedangkan Bojonegoro masih dalam wilayah kekuasaan Majapahit, sampai abad XVI ketika runtuhnya kerajaan Majapahit, kekuasaan pindah ke Demak, Jawa Tengah. Bojonegoro menjadi wilayah kerajaan Demak, sehingga sejarah Bojonegoro kuno yang bercorak Hindu dengan fakta yang berupa penemuan-penemuan banyak benda peninggalan sejarah asal jaman kuno di wilayah hukum Kabupaten Bojonegoro mulai terbentuk. Slogan yang tertanam dalam tradisi masyarakat sejak masa Majapahit “sepi ing pamrih, rame ing gawe” tetap dimiliki sampai sekarang.
      Bojonegoro sebagai wilayah kerajaan Demak mempunyai loyalitas tinggi terhadap raja dan kerajaan. Kemudian sehubungan dengan berkembangnya budaya baru yaitu Islam, pengaruh budaya Hindu terdesak dan terjadilah pergeseran nilai dan tata masyarakat dari nilai lama Hindu ke nilai baru Islam tanpa disertai gejolak. Raden Patah, Senopati Jumbun, Adipati Bintoro, diresmikan sebagai raja I awal abad XVI dan sejak itu Bojonegoro menjadi wilayah kedaulatan Demak. Dalam peralihan kekuasaan yang disertai pergolakan membawa Bojonegoro masuk dalam wilayah kerajaan Pajang dengan raja Raden Jaka Tinggkir Adipati Pajang pada tahun 1568.
      Pangeran Benawa, putra Sultan Pajang, Adiwijaya merasa tidak mampu untuk melawan Senopati yang telah merebut kekuasaan Pajang 1587. Maka Senopati memboyong semua benda pusaka kraton Pajang ke Mataram, sehingga Bojonegoro kembali bergeser menjadi wilayah kerajaan Mataram. Daerah Mataram yang telah diserahkan Sunan Amangkurat kepada VOC berdasarkan perjanjian, adalah pantai utara Pulau Jawa, sehingga merugikan Mataram.
      Perjanjian tahun 1677 merupakan kekalahan politik berat bagi Mataram terhadap VOC. Oleh karena itu, status kadipaten pun diubah menjadi kabupaten dengan wedana Bupati Mancanegara Wetan, Mas Toemapel yang juga merangkap sebagai Bupati I yang berkedudukan di Jipang pada tanggal 20 Oktober 1677.
      Maka tanggal, bulan dan tahun tersebut ditetapkan sebagai HARI JADI KABUPATEN BOJONEGORO. Pada tahun 1725 Susuhunan Pakubuwono II naik tahta. Tahun itu juga Susuhunan memerintahkan agar Raden Tumenggung Haria Mentahun I memindahkan pusat pemerintahan kabupaten Jipang dari Padangan ke Desa Rajekwesi. Lokasi Rajekwesi ± 10 Km di selatan kota Bojonegoro. Sebagai kenangan pada keberhasilan leluhur yang meninggalkan nama harum bagi Bojonegoro, tidak mengherankan kalau nama Rajekwesi tetap dikenang di dalam hati rakyat Bojonegoro sampai sekarang.
















BAB  III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian Sejarah
     Ilmu sejarah mempunyai metode sendiri dalam mengungkapkan peristiwa sejarah masa lampau agar menghasilkan karya sejarah yang kritis, ilmiah dan obektif. Metode penelitian sejarah adalah seperangkat aturan dan prinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif
     Penulisan karya ilmiah ini menggunakan deskripsi kuantitatif dan observaasi langsung sebagai sumber utama dalam menggali fakta-fakta sejarah. Peneliti dilakukan dengan observasi  langsung ke sumber-sunber sejarah yang ada sehingga dengan demikian data yang diperoleh akan lengkap dan valid. Selain itu penulis juga menggunakan metode studi pustaka dengan mencari literature buku tentang sejarah angling dharma. Dalam metode ini penulis mendatangi langsung di Dinas Kebudayaan Bojonegoro yang berlokasi di Jln. Tengku Umar.
      Menurut Nugroho Notosusanto, metode sejarah mempunyai empat langkah kegiatan yaitu,
3.1.1. Heuristik
          Pengumpulan sumber merupakan usaha yang dilakukan untuk mencari dan menemukan bahan-bahan yang sesuai serta relevan untuk mendukung kebenaran tulisan. Sumber yang dikumpulkan tersebut terdiri dari sumber tertulis  dan sumber tidak tertulis atau yang disebut dengan artefact. Penulis mendapatkan sumber-sumber penulisan dari literature buku  di Dinas Kebudayaan dan Pelestarian Bojonegoro.
         Secara lebih terperinci, penulis melakukan tahapan heuristik sebagai berikut:
a.       Pencarian data secara langsung di daerah Bojonegoro. Dalam tahap ini penulis melakukan penelitian di Desa Wotangare Kecaamatan Kalitidu dengan ala an di daeraah tersebut terdapat jejak petilasaan Angling Dharma.
2.      Studi kepustakaan, yang digunakan untuk mendapatkan data tertulis. Dalam tahap ini penulis mencari literature di Dinas Kebudayaan dan Pelestarian Bojonegoro yang berlokasi di Jln. Tengku Umar.
3.1.2 Verifikasi
        Verifikasi merupakan kritik sumber. Mengkaji  sumber yang  diperoleh. Kritik ini bersifat ekstern dan intern. Kritik ekstern adalah kritik terhadap sumber yang diterima mengenai keaslian (secara fisik). Sedangkan kritik intern merupakan dapat tidaknya isi dari sumber tersebut untuk dipercaya.
      Buku-buku yang didapat juga perlu dikritisi karena para penulis buku tersebut terkadang menyajikan tulisan yang tidak sesuai dengan fakta yang ada. Banyak buku-buku yang ditemukan ditulis bukan dari kalangan sejarawan dan penulisannya tidak menggunakan metodologi sejarah yang berlaku sehingga kebenaran fakta yang disajikan masih diragukan.
3.1.3        Interpretasi
           Interpretasi merupakan penafsiran yang dilakukan oleh penulis terhadap data-data yang ada untuk mencari hubungan antara data satu dengan data yang lain. Kemampuan pribadi dan sudut pandang yang berbeda memungkinkan terjadinya perbedaan penafsiran atau pemaknaan. Perbedaan ini diperbolehkan selama tidak menyimpang dari data yang ada. Penulis melakukan berbagai penafsiran dari data-data yang didapat untuk menyusun sebuah rangkaian peristiwa yang sesuai dengan pokok bahasan.
3.1.4        Historiografi
             Historiografi yaitu penyusunan atau menyampaikan fakta sejarah menjadi karya ilmiah. Historiografi digunakan untuk menyimpulkan sintesa dari fakta yang menjadi satu kesatuan dalam bentuk karya ilmiah. Untuk menyusun karya sejarah ini penulis berusaha untuk bertindak objektif.
             Data-data yang diperoleh diproses melalui tahapan-tahapan sesuai yang telah dijelaskan di atas, sehingga penulis lebih mudah dalam menyusunnya untuk dijadikan sebuah tulisan sejarah. Penulis juga menggunakan buku seperti pedoman-pedoman dalam penulisan sejarah, agar hasil yang didapat bisa dipertanggungjawabkan segi kesejarahannya.
Dwi Ari Listiyani. 2009. Sejarah 1 : Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Depatermen Pendidikan Nasional (BSE)

BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Hasil Observasi langsung dan Studi pustaka
    Dari beberapa observasi dan studi pustaka yang dilakukan, penulis pelacakan kebenaran peristiwa (atau mitos) Angling Dharma sendiri sebenarnya layak untuk didiskusikan. Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan di Desa Wotangare Kecamatan Kalitidu dapat disimpulkan bahwa di daerah tersebut terdapat bekas penggalihan yang pernah dilakukan Tim Balai Arkeologi Yogyakarta( 29 Juni-8 Juli 2009 ) yang di dampingi petugas Balai Pelestarian Benda Purbakala Trowulan Mojokerto. Menurut informasi yang penulis peroleh bahwa terdapat berbagai benda purbakala yang ditemukan antara lain:
a.       Struktur batu bata pondasi rumah,
b.      Keramik asal China dan Asia Tenggaara,
c.       Uang kepeng zaman Majapahit,
d.      Fragmen tulang,
e.       Potongan rantai perunggu
     Berbagai benda purbakala tersebut ditemukan kemudian masih akan diteliti lebih mendalam untuk menentukan karakter situs, perluasan situs juga masa keberadaan pemukiman di wilayah itu merupakan pemukiman rakyat biasa yang padat atau kaum menengah keatas, seperti kerajaan atau tidak. 
Salah satu bukti lagi yaitu keris pulanggeni yang tredapat di museum Rajekwesi Bojonegoro. Konon keris pulanggeni tersebut pada masa kerajaan Majapahit, keris itu dibuat oleh Empu Ki Supo ketika mendampingi Raja Jayanegara saat melariakn diri ke Bedander-sekarang dikenal sebagai Dander, salah stu kecamatan di Bojonegoro.
     Berdasarkan bukti-bukti yang ada penulis memperkirakan bahwa benar terdapat bekas kerajaan di daerah tersebut  yang disebut kerajan Malwapati yang dipimpin oleh Prabu Angling Dharma. Anggapan penulis mungkin dengan bukti tersebut masyarakat bojonegoro meyakini bahwa daerahnya dianggap menjadi bumi Angling Dharma. Selain itu terdapat literature buku jejak petilasan Bojonegoro yang berisi Prabu Angling Dharma pernah bersinggah di Bojonegoro saat mengalami masa hukuman dan kutukan menjadi burung Belibis. Beliau dihukum oleh Dewi Uma dan Dewi Ratih karena melanggar janji sendiri untuk tidak menikah lagi sebagai wujud cintanya kepada Dewi Setyowati yang mati bunuh diri. Dianggap melanggar janji saat Dewi Uma dan Dewi Ratih menguji keteguhan janji itu dengan cara menyamar menjadi nenek-nenek dan gadis cantik menyerupai Dewi Setyowati. Dan runtuhlahlah iman sang Prabu. Kemudian beliau dikutuk kedua kalinya oleh seorang putri raksasa yang cantik dan pemakan manusia sebagai burung Belibis. Dan pada perjalanan selanjutnya sampailah beliau di Wonosari, Bojonegoro dan kisah selanjutnya beliau memperistri Dewi Srenggono, Trusilo, dan Mayangkusuno dan kemudian mempunyai beberapa putra. Hal itu, membuat kepercayaan mendalam bagi rakyaa Bojonegoro sehingga kota bojonegoro dijuluki sebagai Kota Angling Dharma.











BAB  V
PEMBAHASAN
5.1 Sejarah Asal Mula Kota Bojonegoro sebagai Bumi Angling Dharma
      Sejarah tertulis yang ada tentang Sang Prabu, hanya ada di Serat Angling Dharma dari Serat Babad Tanah Jawi yang entah versi siapa pun belum jelas (adapun penulis mendapatkannya dari internet, jadi sementara boleh diasumsikan sebagai Babad Tanah Jawi versi Google). Kejanggalan yang timbul dibenak penulis adalah kisah Angling Dharma dengan kisah Mahabarata.
    Sebagian masyarakat meyakini bahwa kisah Mahabarata benar-benar terjadi di tanah Jawa. Prabu Angling Dharma juga dikisahkan merupakan keturunan ke tujuh dari si tampan Arjuna. Juga merupakan cucu dari Jayabaya. kalau naskah sejarah paling dipercaya tentang Jawa masa lampau (Babad Tanah Jawi), nama Jayabaya dapat ditemukan dan “ada”, maka yang agak aneh adalah kepercayaan bahwa Angling Dharma juga merupakan keturunan Arjuna yang hanya ada di dunia pewayangan dapat “lahir” ke dunia nyata.
     Kepercayaan mendalam sekumpulan masyarakat dapat disebut sebagai ekspresi identitas yang melekat dalam masyarakat tersebut. Kepercayaan masyarakat Bojonegoro yang lekat dengan Bojanegara (tempo Malawapati) inilah yang menjadi pijakan awal penulis untuk mengkaji mitos Angling Dharma di Bojonegoro. Pada tahap inilah mungkin dilakukan usaha demotologisasi. Demitologisasi di sini penulis artikan sebagai sebuah upaya untuk melakukan pengejaan kembali sebuah mitos dan menemukan nilai-nilai historis.
     Identitas Angling Dharma dan Malowopati sendiri kini terlanjur menempel erat dengan sejarah Bojonegoro sendiri. Namun, sekali lagi, perdebatan sejarah hanya akan membuat diskursus ini tumpul saat teks baik berupa prasasti ataupun perkamen sejarah lain terkait Angling Dharma dapat ditemukan. Kesepakatan kolektif masyarakat sendiri sampai mengkultuskan Angling Dharma sebagai sosok idaman orang tua saat “menetek” anak-cucunya. Selain tampan, beliau juga bijak dalam mengambil segala keputusan. Hal tersebut tergambar jelas di kisah dalam serial televisi Angling Dharma. Dikisahkan juga bahwa Raja pertama Malowopati tersebut juga dapat mengenal dan menguasai bahasa hewan laiknya Nabi Sulaiman AS.
     Lantaran banyaknya identifikasi yang “diambil” masyarakat dari karakter Angling Dharma dari serial televisinya, penulis juga sempat curiga bahwa pengetahuan awam tentang Angling Dharma telah bersetubuh dengan industri perfilman. Bahkan serial film Angling Dharma telah memengaruhi konstruksi dan proyeksi masyarakat Bojonegoro atas identitas Prabu Angling Dharma.
     Dari beberapa literatur yang penulis baca, memang Prabu Angling Dharma pernah bersinggah di Bojonegoro saat mengalami masa hukuman dan kutukan menjadi burung Belibis. Beliau dihukum oleh Dewi Uma dan Dewi Ratih karena melanggar janji sendiri untuk tidak menikah lagi sebagai wujud cintanya kepada Dewi Setyowati yang mati bunuh diri. Dianggap melanggar janji saat Dewi Uma dan Dewi Ratih menguji keteguhan janji itu dengan cara menyamar menjadi nenek-nenek dan gadis cantik menyerupai Dewi Setyowati. Dan runtuhlahlah iman sang Prabu. Kemudian beliau dikutuk kedua kalinya oleh seorang putri raksasa yang cantik dan pemakan manusia sebagai burung Belibis. Dan pada perjalanan selanjutnya sampailah beliau di Wonosari, Bojonegoro dan kisah selanjutnya beliau memperistri Dewi Srenggono, Trusilo, dan Mayangkusuno dan kemudian mempunyai beberapa putra.
     Dan hal terpenting yang perlu dicatat adalah sang Prabu pernah kembali ke kerajaan Malowopati beserta istri dan putranya karena saat itu Malowopati diserang Raja Raksana Pancadnyono. Dan atas kembalinya sang Raja Malowopati, dimenangilah peperangan itu walaupun Batik Madrim dan pasukanya sempat kwalahan.
Akan tetapi belum diketahui secara pasti apakah sang Prabu menetap di Mlowopati sampai akhir hayat atau tidak. Sehingga sampai saat ini masih menjadi perdebatan yang panjang perihal letak makam Prabu Angling Dharma.
5.2 Cara Meningkatkan Minat Generasi Muda terhaadap Budaya Kota Bojonegoro
     Dengan mengetahui sejaraah asal mula kota Bojonegoro menumbukan minat generasi muda untuk melesstarikan budaya daerah sendiri. Haal tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor :
a.       Faktor Internal
             Berasal dari niat kesadaran diri sendiri untuk menggenal, mempelajari dan melestarikan budaya daerah sendiri. Seberapa besar minatnya terhadap budayanya sendiri.
b.      Faktor Eksternal
     Berasal dari lingkungan disekitarnya baik lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah kabupaten. Dari beberapa lingkungan tersebut yang paling penting dan yang paling mempengaruhi adalah lingkungan pemerintahan Bojonegoro, seberapa pemerintah kabupaten Bojonegoro mengenalkan kebudayaan asli Bojonegoro, seperti tari Mliwiss Putih, tari Tayub, batik  Mliwis Mukti (Motif Burung Legendaris Jelmaan Angling Dharma, Mliwis Putih), Parang Dahono Munggal (Motif Wisata Api Abadi, Kahyangan Api), pementasan wayang modern yang menceritakan legenda kota Bojonegoro yang dibuat sedemikian rupa untuk menarik minat generasi muda.










BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
      Kota Bojonegoro sebagai Bumi Angling Dharma didasarkan kerajaan Malwopati yang dipimpin oleh Prabu Angling Dharma, yang dibuktikan dengan peninggalan-peninggalan bersejarah. Hal ini menjagdin alasan kuat masyarakat Bojonegoro sebagai Bumi Angling Dharma.
6.2 Saran
      Dengan adaanya Angling Dharma sebagai sejarah yang sangat penting bagi kota Bojonegoro, generasi muda seharusnya mengeintropeksi diri dan berusaha untuk melestarikannya agar tidak hilang seiring perkembangan zaman. Nilai-nilai ini harus ditanamkan dengan baik dihati generasi mida. Selain iuu, harus didukung oleh sarana dan prasana yang mempermudah generasi muda dalam mempelajarinya.









DAFTAR RUJUKAN
Dwi Ari Listiyani. 2009. Sejarah 1 : Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Depatermen Pendidikan Nasional (BSE).

Drs. Sukari dan Dra. Suyami, M. Hum.2009. Jejak Petilasan Bojonegoro.Yogyakarta : Balai Pelestarian Nilai Sejarah dan Tradisi (BPSNT).











LAMPIRAN
images.jpg
Bekas Galihan Penelitian yang dilakukan BPNAT di Ds. Wotangare, Kalitidu, Bojonegoro
DSC05706.jpg
Museum Rajekwesi Bojonegoro di Jln. Patimura, Bojonegoro

DSC05699.jpg
Haskah Sejarah Bojonegoro dan Keris Pulanggeni yang terdapat di Musium Rajekwesi Bojonegoro

0 komentar: