Rabu, 02 April 2014

Sejarah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)

Berdirinya Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) tidak lepas dari latar belakang berdirinya Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar sekaligus sebagai konsekuensi dari banyaknya sekolah yang merupakan amal usaha Muhammadiyah untuk membina dan mendidik kader.
Selain itu, situasi dan kondisi politik di Indonesia tahun 60-an yaitu pada masa berjayanya orde lama dan PKI, Muhammadiyah mendapat tantangan yang sangat berat untuk menegakkan dan menjalankan misinya. Oleh karena itu, IPM terpanggil untuk mendukung misi Muhammadiyah serta menjadi pelopor, pelangsung dan penyempurna perjuangan Muhammadiyah. Dengan demikian, kelahiran IPM mempunyai dua nilai strategis. Pertama, IPM sebagai aksentuator gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar di kalangan pelajar. Kedua, IPM sebagai lembaga kaderisasi Muhammadiyah yang dapat membawa misi Muhammadiyah pada masa mendatang.
Berdirinya Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) tidak lepas dari latar belakang berdirinya Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar sekaligus sebagai konsekuensi dari banyaknya sekolah yang merupakan amal usaha Muhammadiyah untuk membina dan mendidik kader. Selain itu, situasi dan kondisi politik di Indonesia tahun 60-an yaitu pada masa berjayanya orde lama dan PKI, Muhammadiyah mendapat tantangan yang sangat berat untuk menegakkan dan menjalankan misinya. Oleh karena itu, IPM terpanggil untuk mendukung misi Muhammadiyah serta menjadi pelopor, pelangsung dan penyempurna perjuangan Muhammadiyah. Dengan demikian, kelahiran IPM mempunyai dua nilai strategis. Pertama, IPM sebagai aksentuator gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar di kalangan pelajar. Kedua, IPM sebagai lembaga kaderisasi Muhammadiyah yang dapat membawa misi Muhammadiyah pada masa mendatang.
Keinginan dan upaya para pelajar untuk membentuk organisasi pelajar Muhammadiyah sebenarnya telah dirintis sejak tahun 1919. Akan tetapi selalu ada halangan dan rintangan dari berbagai pihak, sehingga baru mendapatkan titik terang ketika Konferensi Pemuda Muhammadiyah (PM) pada tahun 1958 di Garut. Organisasi pelajar Muhammadiyah akan ditempatkan di bawah pengawasan PM. Keputusan konferensi tersebut diperkuat pada Muktamar PM II yang berlangsung pada tanggal 24-28 Juli 1960 di Yogyakarta, yakni dengan memutuskan untuk
membentuk IPM (Keputusan II/ nomor 4).
Setelah ada kesepakatan antara Pimpinan Pusat (PP) PM dan Muhammadiyah Majelis Pendidikan dan Pengajaran pada tanggal 15 Juni 1961, ditandatanganilah peraturan bersama tentang organisasi IPM. Pendirian IPM tersebut dimatangkan secara nasional pada Konferensi PM di Surakarta tanggal 18-20 Juli 1961. Sehingga pada tanggal 5 Shafar 1381 H bertepatan dengan tanggal 18 Juli 1961 M ditetapkan sebagai hari kelahiran IPM dengan Ketua Umum Herman Helmi Farid Ma’ruf dan Sekretaris Umum Muh. Wirsyam Hasan. Akhirnya, IPM menjadi salah satu organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah yang bergerak di bidang dakwah dan kaderisasi di kalangan pelajar Muhammadiyah.
Pada Konferensi Pimpinan Pusat (Konpiwil) IPM tahun 1992 di Yogyakarta, Menpora Akbar Tanjung secara implisit menyampaikan kebijakan pemerintah pada IPM untuk melakukan penyesuaian tubuh organisasi. PP IPM diminta Depdagri mengisi formulir direktori organisasi disertai catatan agar pada waktu pengembalian formulir tersebut nama IPM telah berubah. Tim eksistensi PP IPM yang bertugas membahas masalah ini, melakukan pembicaraan secara intensif. Akhirnya diputuskan perubahan nama Ikatan Pelajar Muhammadiyah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), dengan pertimbangan:
  1. keberadaan pelajar sebagai kader persyarikatan, umat dan bangsa selama ini belum mendapat perhatian sepenuhnya dari persyarikatan Muhammadiyah;
  2. perlunya pengembangan jangkauan IPM;
  3. adanya kebijakan pemerintah RI tentang tidak diperbolehkannya penggunaan kata pelajar untuk organisasi berskala nasional.
Keputusan pergantian nama ini tertuang dalam Surat Keputusan (SK) PP IPM nomor VI/PP.IPM/1992 yang selanjutnya disahkan oleh PP Muhammadiyah tanggal 22 Jumadil Awwal 1413 H bertepatan dengan 18 November 1992 M tentang pergantian nama Ikatan Pelajar Muhammadiyah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah. Dengan demikian secara resmi perubahan IPM menjadi IRM adalah sejak tanggal 18 November 1992.
Seiring perkembangan organisasi IRM, muncul berbagai reaksi dari tubuh persyarikatan bahwa IRM dinilai kurang fokus terhadap pembinaan  pelajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Maka, Tanwir Muhammadiyah tahun 2007 merekomendasikan IRM untuk berubah kembali menjadi IPM.
Pembahasan mengenai basis masa dan lokus gerakan sebenarnya sudah mengemuka sejak Muktamar IRM ke-14 di Lampung. Pada Muktamar IRM ke-15 pun, mengamanatkan untuk membentuk tim eksistensi yang bertugas untuk membahas masalah ini. Tim eksistensi PP IPM juga meminta saran pendapat dari PP Muhammadiyah dan ortom-ortom di dalamnya.
Muktamar XVI IPM di Surakarta, Dok. IPM Garut
Muktamar XVI IPM di Surakarta, Dok. IPM Garut
Tak lama kemudian, PP Muhammadiyah mengeluarkan SK nomor 60/KEP/I.0/B/2007 tertanggal 7 Jumadil Awwal 1428 H bertepatan dengan 24 Mei 2007 M tentang perubahan nomenklatur IRM menjadi IPM. Sehubungan dengan munculnya berbagai reaksi terkait SK tersebut, PP IPM segera mengadakan pleno diperluas dengan mengundang PP Muhammadiyah dan seluruh Pimpinan Pusat (PW) IPM se-Indonesia. Setelah berdialog secara intensif, PP Muhammadiyah mengeluarkan maklumat berkenaan dengan SK PP Muhammadiyah nomor 60/KEP/I.0/B/2007 bahwasanya perubahan IRM menjadi IPM membutuhkan proses. Maklumat ini berlaku efektif setelah Muktamar IRM XVI pada tanggal 23-28 Oktober 2008 di Surakarta.
Muktamar IPM pertama setelah perubahan dari IRM dilaksanakan pada tanggal 2-7 Juni 2010 di Bantul, DI. Yogyakarta. Muktamar kali ini bertepatan dengan setengah Abad Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Dalam Muktamar ini dilaunching Gerakan Pelajar Kreatif (GPK) yang merupakan turunan dari Gerakan Kritis Transformatif (GKT).
Sejarah perkembangan IPM, sejak dari kelahiran Ikatan Pelajar Muhamamdiyah (IPM) hingga kemudian terjadinya perubahan nama menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) pada tahun 1992 dan kemudian berubah nama kembali menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) telah melalui proses yang panjang seiring dengan dinamika yang berkembang di masyarakat baik dalam skala nasional maupun global. Hingga saat ini IPM telah melampaui empat fase perkembangan, yaitu:
[accordions] [accordion title="1. Fase Pembentukan (mulai tahun 1961 s/d 1976)"] Kelahiran IPM bersamaan dengan masa dimana pertentangan idiologis menjadi gejala yang menonjol dalam kehidupan sosial dan politik di Indonesia dan dunia pada waktu itu. Keadaan yang demikian menyebabkan terjadinya polarisasi kekuatan tidak hanya dalam persaingan kekuasaan di lembaga pemerintah, bahkan juga dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam situasi seperti ini IPM lahir dan berproses membentuk dirinya. Maka sudah menjadi kewajaran bila pada saat awal keberadaannya IPM banyak terfokus pada upaya untuk mengkonsolidasikan dan menggalang kesatuan Pelajar Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia dalam wadah IPM. Upaya untuk menemukan karakter dan jati diri IPM sebagai gerakan kader dan dakwah banyak menjadi perhatian pada waktu itu. Upaya ini mulai dapat terwujud setelah IPM dapat merumuskan Khittah Perjuangan IPM, Identitas IPM, dan Pedoman Pengkaderan IPM (hasil Musyawarah Nasional/Muktamar ke-2 di Palembang tahun 1969). Fase pembentukan IPM diakhiri pada tahun 1976 yaitu dengan keberhasilan IPM merumuskan Sistem Pengkaderan IPM (SPI) hasil Seminar Tomang tahun 1976 di Jakarta. Dengan SPI yang telah dirumuskan tersebut, maka semakin terwujudlah bentuk struktur keorganisasian IPM secara lebih nyata sebagai organiasai kader dan dakwah yang otonom dari persyarikatan Muhammadiyah. [/accordion] [accordion title="2. Fase Penataan (mulai tahun 1976 s/d tahun 1992)"] IPM memasuki fase penataan ketika bangsa Indonesia tengah bersemangat mencanangkan pembangunan ekonomi sebagai panglima, dan memandang bahwa gegap gempita persaingan ideologi dan politik harus segera diakhiri jika bangsa Indonesia ingin memajukan dirinya. Situasi pada saat itu menghendaki adanya monoloyalitas dalam berbangsa dan bernegara dengan mengedepankan stabilitas nasional sebagai syarat pembangunan yang tidak bisa ditawar lagi. Dalam keadaan seperti ini menjadikan organisasi-organisasi yang berdiri sejak masa sebelum Orde Baru harus dapat menysuaikan diri. Salah satu kebijakan pemerintah yang kemudian berimbas bagi IPM adalah tentang ketentuan OSIS sebagai satu-satunya organisasi pelajar yang eksis di sekolah. Keadaan ini menyebabkan IPM mengalami kendala dalam mengembangkan keberadaannya secara lebih leluasa dan terbuka. Agenda Permasalahan IPM yang membutuhkan perhatian khusus untuk segera dipecahkan pada waktu adalah tentang keberadaan IPM secara nasional yang dipermasalahkan oleh pemerintah karena OSIS lah satusatunya organisasi pelajar yang diakui eksistensinya di sekolah. Konsekwensinya semua organisasi yang menggunakan kata-kata pelajar harus diganti dengan nama lain. Pada awalnya IPM dan beberapa organiasasi pelajar sejenis berusaha tetap konsisten dengan nama pelajar dengan berharap ada peninjauan kembali kebijaksanaan pemerintah tersebut pada masa mendatang. Namun konsistensi itu ternyata membawa dampak kerugian yang tidak sedikit bagi IPM karena kemudian kegiatan IPM secara nasional seringkali mengalami hambatan dan kesulitan penyelenggaraannya. Disamping itu beberapa organisasi pelajar yang lain yang senasib dengan IPM satu-persatu mulai menyesuaikan diri, sehingga IPM merasa sendirian memperjuangkan konsistensinya. Pada sisi lain IPM merasa perlu untuk segera memperbaharui visi dan orientasi serta mengembangkan gerak organisasi secara lebih luas dari ruang lingkup kepelajaran memasuki ke dunia keremajaan sebagai tuntutan perubahan dan perkembangan zaman. Maka tanggal 18 November 1992 berdasarkan SK PP Muhammadiyah No. 53/SK-PP/ IV.B/1.b/1992 Ikatan Pelajar Muhammadiyah secara resmi berubah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah. [/accordion] [accordion title="3. Fase Pengembangan (mulai tahun 1992 s/d 2008)"] Perubahan nama IPM menjadi IRM beriringan dengan situasi bangsa Indonesia tengah menyelesaikan PJPT I (Pembangunan Jangka Pendek Tahun I) dan akan memasuki PJPT II. Banyak kemajuan yang telah diperoleh bangsa Indonesia sebagai hasi PJPT I, diantaranya adalah pertumbuhan ekonomi yang semakin baik dan pesat, stabilitas nasional yang semakin mantap, dan tingkat pendidikan, kesehatan, dan sosial ekonomi masyarakat semakin baik. Namun demikian ada beberapa pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan bangsa Indonesia pada PJPT II antara lain: masalah pemerataan pembangunan dan kesenjangan ekonomi, demokratisasi, ketertinggalan di bidang IPTEK, permasalahan sumber daya manusia, dan penegakan hukum dan kedisiplinan. Sementara itu, era 90-an ditandai dengan semakin maraknya kesadaran ber-Islam diberbagai kalangan masyarakat muslim di Indonesia. Di samping itu peran dan partisipasi ummat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara juga semakin meningkat. Kondisi yang demikian memberi peluang bagi IRM untuk dapat berkiprah lebih baik lagi. Pada sisi lain, kemajuan teknologi komunikasi dan informasi semakin membawa manusia ke arah globalisasi yang membawa banyak perubahan pada berbagai sisi kehidupan manusia. Tatanan sosial, budaya, politik, dan ekonomi banyak mengalami perombakan drastis. Salah satu perubahan mendasar yang akan banyak membawa pengaruh bagi bangsa Indonesia adalah masalah liberalisasi ekonomi. Liberalisasi ekonomi sebagaimana telah diputuskan dalam konferensi APEC merupakan kebijakan yang tidak terelakkan karena mulai tahun 2003 mendatang Indonesia harus memasuki era AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang dilanjutkan pada tahun 2020 dalam skema liberalisasi perdagangan yang lebih luas di Asia Psifik. Pengaruh liberalisasi ekonomi ini akan berdampak luas tidak hanya dalam aspek ekonomi saja, tetapi juga dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya. Salah satu dampak yang sekarang sangat dirasakan adalah munculnya krisis moneter yang terjadi di Asia Tenggara dan sebagian Asia Timur. Munculnya krisis yang dimulai dengan timbulnya depresi mata uang, disebabkan oleh ketidakpastian perangkat suprastruktur dan infrastruktur baik ekonomi maupun politik dalam mengantisipasi dampak globalisasi perdagangan. Fenomena ini kemudian memunculkan tuntutan reformasi di bidang ekonomi dan politik sebagai prasyarat untuk mengantisipasi dan menyelesaikan persoalan krisis. Di Indonesia sebagai salah satu negara yang terkena krisis dan menderita paling parah juga muncul tuntutan reformasi. Fenomena reformasi yang dituntut masyarakat Indonesia adalah reformasi yang mendasar diseluruh bidang baik di bidang ekonomi, budaya, politik bahkan sampai reformasi moral. Tuntutan reformasi ini jelas mendesak IRM untuk melakukan peran dan fungsinya sebagai organisasi keagamaan dan dakwah Islam dikalangan remaja menjadi lebih aktif dan responsif terhadap perkembangan perjalanan bangsa menuju masyarakat dan pemerintahan yang bersih dan modern. Dalam kondisi yang demikianlah IRM memasuki fase pengembangan, yaitu perkembangan pasca perubahan nama IPM menjadi IRM hingga terselenggaranya pelaksanaan pola kebijakan jangka panjang IRM pada Muktamar XII. Diharapkan nantinya IRM telah mencapai kondisi yang relatif mantap baik secara mekanisme kepemimpinan maupun mekanisme keorganisasian sehingga mampu secara optimal menjadi wahana penumbuhan dan pengembangan potensi sumber daya remaja. Pengelolaan sumber daya yang dimiliki Ikatan Remaja Muhammadiyah harus didukung dengan adanya peningkatan kapasitas kualitas pemimpin, mekanisme kerja yang kondusif yang seiring dengan kemajuan zaman, serta pemantapan dan pengembangan gerak Ikatan Remaja Muhammadiyah yang berpandangan ke depan namun tetap dijiwai oleh akhlak Mulia. IRM dituntut untuk dapat menyiapkan dasar yang kokoh baik secara institusional maupun personal sehingga tercipta komunitas yang kondusif bagi para remaja sehingga dapat menghadapi setiap perkembangan zaman yang ada. [/accordion] [accordion title="4. Fase Kebangkitan (mulai tahun 2006 s.d 2010)"] Pada fase ini, terhitung sejak delapan tahun sebelumnya dimana bangsa Indonesia sedang ramai menyambut masa baru yang diharapkan dapat melakukan perubahan bangsa yang lebih baik yaitu masa reformasi tahun 1998. Akan tetapi pada kenyataannya pasca reformasi hingga tahun 2006 yang telah dipimpin oleh tiga kepemimpinan presiden yang berbeda (Bpk. Abdurrahman Wahid, Ibu Megawati Soekarno Putri dan Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono), tidak kunjung membawa perubahan yang lebih baik bagi bangsa, bahkan memunculkan penyakitpenyakit baru di negeri ini. Demikian juga hingga saat ini, memasuki masa kepemimpinan “Kabinet Indonesia Bersatu jilid II”, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, telah menunjukkan kesempurnaan hancurnya negeri ini, seperti yang banyak diungkapkan oleh para ahli dan pakar, serta pengamat politik di Indonesia. Karena bangsa ini sedang dipimpin oleh para pemimpin bangsa yang cenderung korup dan senang menjual bangsanya ke negara asing atau bisa dikatakan kepemimpinan bangsa yang tidak lagi memiliki karakter kepemimpinan yang selalu siap membela rakyatnya, membawa rakyatnya kepada kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Hal ini dapat dilihat dari maraknya korupsi disemua jenjang struktur pemerintahan yang ada, permainan politik yang tidak mencerdaskan rakyat justru melakukan pembodohan pada masyarakat dan masih banyak lagi persoalan bangsa yang melekat di negeri ini. Hal ini menunjukkan bahwa betapa bangsa ini sedang krisis disegala bidang, bahkan krisis moral pemimpin bangsa. Dari sinilah IRM yang kemudian kembali berubah nama menjadi IPM pada tahun 2008 dituntut untuk terus berperan dalam melakukan gerakan dakwahnya, khususnya dikalangan remaja/pelajar sebagai penerus estafeta kepemimpinan bangsa beberapa tahun mendatang. Di tengah kondisi bangsa yang sedang krisis disegala bidang dan dilanda banyaknya musibah atau bencana alam yang tidak kunjung selesai pada tahun 2004-2009 (kepemimpinan presiden SBY) kala itu. Di tubuh IRM-pun pada Muktamar XIV tahun 2006 di Medan, turut merespon kondisi bangsa kala itu. Karena IRM sangatlah sadar sekali akan gerakan sosial yang dilakukan berlandaskan pada nilainilai perjuangan untuk melakukan suatu perubahan yang lebih baik, yang kemudian sangat dikenal dengan Gerakan Kritis Transformatif (GKT)-nya. Akan tetapi cenderung mengalami pergeseran pergerakan yang kemudian menjadi meluas dan tidak lagi fokus terhadap bassis massa yang seharusnya menjadi perhatian utama oleh IRM sebagai organisasi remaja/pelajar Muhammadiyah. Oleh karena itulah, kemudian pada Muktamar XIV tahun 2006 di Medan kembali menyuarakan agar IRM kembali berubah nama menjadi IPM dengan beberapa alasan diantaranya; Masa Orde Baru telah runtuh, kini telah lama memasuki masa reformasi dan sudah tidak ada lagi tekanan dari pemerintah bahwa satu-satunya organisasi pelajar di sekolah hanyalah OSIS, maka IPM dapat kembali ke bassis massanya secara riil yaitu “pelajar”. Dan yang kedua, IRM harus kembali pada fokus gerakannya sebagai bassis massa utama yaitu “pelajar”. Karena pelajar dan pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam melakukan perubahan bangsa yang lebih baik beberapa tahun kedepan. Meskipun kemudian belum secara menyeluruh menemukan kesepemahaman atau kesepakatan bersama untuk merubah nama IRM menjadi IPM, akan tetapi proses prubahan nama tersebut telah berjalan, yang kemudian pada forum Muktamar tersebut memutuskan untuk pembentukan tim eksistensi IRM. Hingga pada akhirnya gong perubahan nama tersebut diperdengarkan lebih cepat sebelum kinerja tim eksistensi dapat menghasilkan sesuatu yang matang untuk IRM/IPM kedepan. Pada keputusan Tanwir Muhammadiyah pada tahun 2008 di Yogyakarta, Muhammadiyah memutuskan perubahan nomenklatur IRM menjadi IPM kembali. Hingga pada akhirnya pintu gerbang IPM-pun kembali terbuka, dan IRM resmi kembali berubah nama menjadi IPM pada Muktamar XVI pada tahun 2008 di Solo. Kini IPM-pun kembali pada bassis massa dan fokus gerakannya yaitu membela kaum pelajar dan memperjuangkan pendidikan yang lebih baik, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itulah IPM saat ini kembali ke sekolah (back to shcool), kembali memperjuangkan hakekat pendidikan yang sesungguhnya, yang dapat menghasilkan “Insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif”, sesuai dengan visi pendidikan nasional. Melalui berbagai macam pelatihan, seminar-seminar, workshop dan lain sebagainya IPM melakukan proses penyadaran terhadap pelajar akan peran serta fungsi pelajar sebagai obyek maupun subyek dari proses pembelajaran dan perubahan. Serta melakukan proses pemberdayaan dan pembelaan terhadap pelajar yang selama ini selalu saja dijadikan sebagai obyek dari sistem yang tidak mencerdaskan, akan tetapi lebih kepada pendeskriditan pelajar demi kepentingan sepihak atau kelompok tertentu. Padahal disisi lain, seiring dengan perkembangan zaman yang ada, baik dari segi teknologi, komunikasi atau ilmu pengetahuan pada umumnya menjadi tantangan yang besar bagi pelajar. Menuntut para pelajar agar dapat berjuang lebih keras lagi (kompetitif) dan kreatif dalam bertindak dan menciptakan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi ummat dan bangsa. Oleh karena itulah, hal tersebut menjadi salah satu alasan bagi IPM untuk merumuskan suatu rumusan gerakan IPM yang sesuai dengan tantangan dan perkembangan zaman yang sedang dihadapi pelajar saat ini. Akhirnya pada Muktamar XVII pada tahun 2010 di Yogyakarta kemarin, IPM kembali mendeklarasikan satu gerakan yang saling terkait dengan gerakan-gerakan IPM yang pernah ada sebelumnya. Gerakan tersebut dinamakan sebagai “Gerakan Pelajar Kreatif”, yang kemudian melahirkan satu visi IPM satu periode ini, hingga tahun 2012, yaitu “Menjadikan IPM sebagai Rumah Kreatif Pelajar Indonesia”. Semoga IPM dapat mengimplementasikan gerakan yang ada secara massif dan progressif, sehingga dapat mencapai visi IPM yang telah dicanangkan dalam rangka mewujudkan “Pelajar Muslim yang berilmu, berakhlak mulia dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam, sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.

SEJARAH SINGKAT PANDU HIZBUL WATHAN

SEJARAH SINGKAT PANDU HIZBUL WATHAN
DETIK DETIK LAHIRNYA HW
Pada suatu hari (Ahad) KH. Ahmad Dahlan memanggil beberapa guru Muhammadiyah : Bp. Somodirdjo (Mantri Guru Standart School Suronatan), Bp. Syarbini dari sekolah Muhammadiyah Bausasran dan seorang lagi dari Sekolah Muhammadiyah Kota Gede.
KH. Ahmad Dahlan berkata kira-kira demikian :
“Saya tadi pagi di Solo sepulang dari Tabligh sampai di muka Pura Mangkunegaran di alun-alun Surakarta melihat anak-anak baris-berbaris, sebagian bermain-main, semuanya berpakaian seragam, baik sekali! Apa itu??”.
Bp. Somodirjo menjelaskan bahwa itu adalah Pandu Mangkunegaran yang namanya JPO (Javaanche Padvinderij Organisatie) ialah suatu gerakan pendidikan anak-anak diluar sekolah dan rumah.
Mendengar keterangan tersebut KH. Ahmad Dahlan menyambut :
“Alangkah baiknya kalau anak-anak keluarga Muhammadiyah juga dididik semacam itu untuk leladi menghamba kepada Allah, selanjutnya beliau mengharap kepada para guru untuk mencontoh gerakan pendidikan itu”.
Bp. Somodirdjo dan Bp. Syarbini mempelopori mengadakan persiapan – persiapan akan mengadakan gerakan pendidikan untuk anak-anak diluar sekolah dan rumah. Mula-mula yang digerakkan untuk latihan adalah para guru-guru sendiri dulu. Pendaftaran dimulai dan latihan pun diadakan di SD Muhammadiyah Suronatan tiap Ahad Sore. Latihan meliputi baris-berbaris, bermain tambur dan olahraga, kemudian ditambah dengan PPPK dan kerohanian. Bp. Syarbini adalah seorang pemuda yang pernah mendapat pendidikan kemiliteran melatih baris-berbaris. Banyak pemuda yang tertarik sehingga pengikut latihan semakin banyak. Akhirnya diadakan penggolongan yakni golongan dewasa dan anak-anak.

PADVINDER MUHAMMADIYAH
Tahun 1918 adalah saat Gerakan Hizbul wathan melangkahkan langkahnya yang pertama dengan nama Padvinder Muhammadiyah. Nama tersebut semakin populer. Untuk pengawasan Gerakan padvinder Muhammadiyah ini diserahkan kepada Muhammadiyah bagian sekolahan. Oleh Muhammadiyah bagian sekolahan tersebut dibentuklah pengurus sebagai berikut :
Ketua : H. Muchtar
Wakil Ketua : H. Hadjid
Sekretaris : Somodirdjo
Keuangan : Abdul Hamid
Organisasi : Siradj Dahlan
Komando : Sjarbini dan Damiri
Untuk memajukan gerakan tersebut, direncanakan akan mengadakan studi ke JPO Solo. Agar kunjungan ke JPO Solo tersebut meriah, bagian sekolahan mengusahakan uniform, kemeja drill kuning dan kemeja drill biru, sedang untuk setangan leher untuk mudahnya menggunakan kacu yang banyak dijual ialah kacu merah berbintik hitam.
Kedatangan Padvinder Muhammadiyah menggemparkan kota Solo. Di lapangan mangkunegaran diadakan demonstrasi-demonstrasi dan macam-macam permainan sebagai perkenalan. Padvinder Muhammadiyah mendapat pelajaran yang sangat berharga dalam kunjungan ke JPO Solo.

NAMA HIZBUL WATHAN
Sepulang dari kunjungan ke JPO Solo tersebut dibicarakan nama dari Padvinder Muhammadiyah. Di rumah Bp. H. Hilal Kauman, RH. Hadjid mengajukan nama yang dianggap cocok pada waktu itu yaitu HIZBUL WATHAN, yang berarti Pembela Tanah Air. Hal ini mengingat adanya pergolakan-pergolakan di luar negeri maupun di dalam negeri yaitu masa berjuang melawan penjajah Belanda.
Nama HIZBUL WATHAN sendiri berasal dari nama kesatuan tentara Mesir yang sedang berperang membela tanah airnya. Dengan kata sepakat nama HIZBUL WATHAN dipakai mengganti nama “Padvinder Muhammadiyah“ tahun 1920.
Kejadian itu bertepatan dengan peristiwa akan turunnya dari tahta Paduka Sri Sultan VII di Yogyakarta. Untuk turut menghormat dan akan ikut mengiringkan pindahnya Sri Sultan VII dari keraton ke Ambarukmo, diadakan persiapan-persiapan dam latihan. Pada tanggal 30 Januari 1921 barisan HW keluar turut mengiringkan Sri Sultan VII pindah dari keraton ke Ambarukmo. Keluarga HW mendapat penuh perhatian dari khalayak ramai. Dari saat itulah HW terkenal pada umum. Hal ini ditambah lagi sesudah beberapa hari kemudian HW berbaris dalam perayaan penobatan Sri Sultan VIII. Perayaan diadakan di alun-alun utara Yogyakarta. HW turut pula dengan mengadakan demonstrasi dimuka panggung dimana Sri Sultan VIII dengan para tamu menyaksikannya.
HW telah menjadi buah bibir masyarakat. Demikianlah uniform HW mulai dikenal masyarakat. Maka tidak heranlah, kalau kadang-kadang kalau ada anak Belanda atau Cina berpakaian Padvinder (NIPV) dikatakan : “Lho, itu ada HW Landa, Lho itu ada HW Cina”, yang sebetulnya yang dimaksud adalah Padvinder NIPV, bahkan setiap ada anak berpakaian pandu selalu dikatakan Pandu HW.
Pada tanggal 13 Maret 1921 KH. Fachrudin menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya yang diantar oleh barisan Pandu HW dan Warga Muhammadiyah sampai Stasiun Tugu Yogyakarta. KH. Fachrudin sempat berpesan didepan anggota-anggota HW dengan menanamkan anti penjajah pada anak HW :
“Tongkat-tongkat yang kamu panggul itu pada suatu ketika nanti akan menjadi senapan dan bedil”
Pesan KH. Fachrudin itu ternyata benar, karena beberapa tahun kemudian banyak anggota HW yang memegang senjata pada Zaman Jepang dengan memasuki barisan PETA (Pembela Tanah Air) seperti : Suharto (Presiden), Sudirman (Panglima Besar TNI), Mulyadi Joyomartono, Kasman Singodimejo, Yunus Anis, dll.
Pesatnya kemajuan HW rupaya mendapat perhatian dari NIPV (perkumpulan kepanduan Hindia belanda sebagai cabang dari kepanduan di Negeri Belanda(NPV)). Pada waktu itu gerakan kepanduan yang mendapat pengakuan dari Internasional hanyalah yang bergabung dalam NIPV tersebut.

HW MENOLAK BERGABUNG DENGAN NIPV
M. Ranelf seorang pemimpin dari NIPV dan yang memegang perwakilan NPV telah datang di Yogyakarta menemui pimpinan HW, mengajak supaya HW masuk ke dalam organisasi NIPV. Usaha-usaha Ranelf selaku komisaris NIPV tiada hentinya untuk menarik HW menjadi anggota NIPV sehingga ketika Konggres Muhammadiyah tahun 1926 di Surabaya, ia mengikuti Konggres Muhammadiyah dari awal sampai dengan selesai.
Selanjutnya diadakan pertemuan lagi di Yogyakarta oleh wakil NIPV, mengajak HW masuk kedalam organisasi NIPV. HW mempunyai prinsip-prinsip yang sukar diterima oleh Padvinder. Adapun HW jika dikatakan itu bukan Padvinder, bagi HW tidak keberatan. HW adalah Hizbul Wathan, mau dikatakan itu padvinder atau bukan terserah yang mau mengatakannya.
KH. Fachrudin mengetahui bahwa NIPV merupakan kepanduan yang bersifat ke Belanda an dan merupakan alat dari penjajah Belanda, sehingga ajakan tersebut ditolak HW. Alasan HW menolak ajakan tersebut karena HW sudah mempunyai dasar sendiri yaitu Islam, dan HW sudah mempunyai induk sendiri yaitu Muhammadiyah. Sesuai dengan induknya HW bersemangat anti penjajah, HW tidak dapat diatur menurut aturan NIPV.

HW PADA MASA PENJAJAHAN JEPANG
Pada permulaan jaman Jepang HW masih nampak kegiatannya, bahkan ikut pawai yang diadakan oleh Jepang dalam rangka merayakan UlangTahun Tenno Heika, sedangkan yang memimpin pawai tersebut Bp. Haiban Hadjid. HW terpilih untuk ikut serta dalam pawai tersebut karena HW dalam baris-berbaris terkenal bagus dibandingkan dengan kepanduan lainnya. Oleh karena itu pandu-pandu dari organisasi lain memberi identitas HW sebagai PANDU MILITER.
Kepanduan pada permulaan perndudukan Jepang namapknya akan mendapat kesempatan hidup terus. Namun tidak lama kemudiansecara terang-terangan Jepang melarang berdirinya organisasi-organisasi kepanduan serta pergerakan lainnya.
Sehingga semua pandu-pandu di Indonesia tidak aktif dari kegiatannya.

PADA MASA KEMERDEKAAN
Sesudah proklamasi kemerdekaan timbullah keinginan untuk menghidupkan kembali organisasi kepanduan Indonesia. Sedang bentuk dan sifatnya harus sesuai dengan keadaan, yakni suatu organisasi kepanduan yang bersatu meliputi seluruh Indonesia dan tidak terpecah belah.
Pada akhir bulan September 1945 di Balai Mataram Yogyakarta berkumpullah beberapa orang pemimpin pandu. Dari HW hadir Bp. M. Mawardi dan Bp. Haiban Hadjid.
Pada tanggal 27 – 29 Desember 1945 diadakan konggres Kesatuan Kepanduan Indonesia yang hadir lebih kurang 300 orang. Termasuk utusan dari HW. Dalam konggres ini dengan suara bulat diputuskan membentukPANDU RAKYAT INDONESIA.
Anggota pengurus Kwartir Besar Pandu Rakyat Indonesia antara lain : Dr. Mawardi (KBI), Hertog (KBI), Abdul Ghani (HW), Jumadi (HW).
Tahun 1948 terjadilah aksi polisionil ke 2, Belanda mendudukiYogyakarta, Ibu Kota RI.
Konggres pandu Rakyat kedua diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 20 sampai dengan 22 Januari 1950. Keputusan-keputusan yang dihasilakn dalam konggres Pandu Rakyat Indonesia yaitu antara lainmenerima konsepsi baru yang memberi kesempatan kepada bekas pemimpin pandu untuk menghidupkan kembali organisasinya masing-masing.

AMANAT PANGSAR JENDERAL SUDIRMAN
Pada hari Ahad Legi 19 Desember 1948 Belanda menyerbu dan menduduki Ibu Kota RI Yogyakarta dan menangkap Presiden dan Wakil Presiden serta beberapa pemimpin Indonesia lainnya, tetapi bukan berarti RI telah jatuh. Pangsar Jenderal Sudirman (Pandu HW) meskipun dalam keadaan sakit beliau pantang menyerah, keluar kota untuk memimpin perang gerilya.
Pada tanggal 29 Juni 1948 Belanda meninggalkan Yogyakarta dan masuklah tentara RI ke Yogyakarta, yang kemudian terkenal dengan Yogya Kembali. Pangsar Jenderal Sudirman masih dalam keadaan dan dirawat di RS Magelang.
M. Mawardi dan beberapa orang wakil dari Muhammadiyah menengok di RS Magelang. Pada saat itu Jenderal Sudirman mengamanatkan kepada Mawardi selaku Wakil Muhammadiyah agar Kepanduan Hizbul Wathan yang merupakan tempat pendidikan untuk CINTA TANAH AIR didirikan lagi. Di samping itu juga untuk melanjutkan tujuan semula pendirian HW yaitu : sebagai kader Muhammadiyah dalam penyebaran agama Islam. Dikatakan bahwa HW merupakan tempat yang baik untuk mendidik anak-anak Muhammadiyah agar kelak menjadi seorang pejuang yang cinta tanh air dan sekaligus taat pada agama. Oleh karena itu dianjurkan pada warga Muhammadiyah agar jangan ragu-ragu lagi untuk mendidik putra-putrinya melalui Kepanduan HW.

APEL PERESMIAN BERDIRINYA KEMBALI HW
Untuk melaksanakan amanat Pangsar Jendral Sudirman pada sore hari tanggal 29 Januari 1950 secara simbolis HW mengadakan apel yang dipimpin oleh Bp. Haiban Hadjid untuk meresmikan berdirinya kembali kepanduan Hizbul Wathan, dan pada malam harinya Pangsar TNI Jenderal Sudirman wafat. Oleh karenanya pada waktu itu ada semboyan :
“HW BANGKIT UNTUK MELANJUTKAN KEPEMIMPINAN JENDERAL SUDRIMAN”
Setelah HW resmi berdiri lagi banyaklah anggota Pandu Rakyat yang dulu juga pandu HW masuk kembali ke dalam Hizbul Wathan.

MAJELIS HW
Kepanduan Hizbul Wathan yang merupakan organisasi bagian Muhammadiyah dalam struktur organisasinya tidak dapat dipisahkan dari Muhammadiyah. Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis HW disingkat dengan Majelis HW adalah suatu badan pembantu Pimpinan Muhammadiyah yang diserahi tugas melaksanakan Pimpinan, usaha Muhammadiyah dalam bidang Ke HW an. Majelis HW adalah sebagai Kwartir Besar HW dan mempunyai Pimpinan langsung ke bawah tingkat daerah, cabang. Anggota Majelis HW terdiri dari anggota Muhammadiyah yang mempunyai keahlian tentang HW. Mereka ditetapkan dan diberhentikan oleh PP Muhammadiyah.

MAJELIS HW TAHUN 1961
Ketua : MH. Mawardi
Wk/Kb Umum : R. Haiban Hadjid
KB Bag. Lab : HAG Dwidjosuparto
KB Penghela : R. Subiso Sastrowarsito
KB Pengenal : H. Suroso
KB Athfal : Donowardoyo
KB Bag. Latihan : Otong Muchsin
KB Perw. Jakarta : KH. Mansur
Anggota : R. Dawam Marzuki
Bendahara : Hirmas
Sekretaris I : H. Amien Luthfie
Sekretaris II : Achmad Sumitro, BSc
Sekretaris III : Rofiq JA
Pustaka :
Buku Kenang-Kenangan
Reuni Pandu HW Wreda
di Yogyakarta, 14 Januari 1996

Selasa, 11 Maret 2014

rossimawar.blogspot.com_ kebenaran ataukah sebuah kepalsuan

kebenaran ataukah sebuah kepalsuan

:) Kali ini tentang seorang anak kecil yang kemarin ada di atas bus. Kemarin aku  ke Surabaya mengambil buku kuliah di kampus. Hemmzz,, bukunya itu banyak banget ada 10 buku yang aku bawa pulang. Dan setelah aku mencari-cari aku mendapat semua buku itu, aku pulang naik bus kota. Nggak lama nunggu busnya datang terus aku naik tuh. Dalam perjalanan aku selalu lihat ke luar jendela (kebiasaanku itu) dan kadang-kadang sambil melamun. Tiba-tiba ada seorang anak kecil, badannya gemuk, berkulit agak kehitaman, sekitar kelas 2-3 SD, dan pipinya itu tembem (jelaslah diakan gemuk...) daari belakang dia berjalan kedepan dengan menyodori setiap penumpang yang ada dengan amplop. Aku kanget saat dia menyodoriku sebuah amplop kecil yang biasa orang-orang tua pakai untuk acar-acara tertentu. Untuk beberapa detik aku memandangnya. Dia memandangku dengan wajah polos anak kecil, dengan mata yang sayu. Aku berfikir apa ini sebuah tipuan? dengan mengerahkan anak kecil sebagai perantaranya. Aku membaca sebuah tulisan yang tertulis di amplop itu.
Kasihan dia dengan usia yang masih kecil disuruh mencari uang. Dari mana anak kecil bisa ngeprint kata-kata itu? pasti bukan dia dan jelas itu dia hanya bertugas untuk menyodorkan amplop itu. Setelah dia menyodorkan amplop itu ke penumpang dia  menyanyi sebuah lagu dengan kincringan dari kayu dan tutup botol yang di gepengkan. Aku bingung mau aku kasih atau nggak. Aku kasihan dengan anak itu  aku memasukkan selembar uang lima ribu rupiah ke dalam amplop (kan seikhlasnya). Aku berharap kata-kata ini benar dan aku berikan ini dengan tujuan yang ada di amplop dan bukan untuk sebuah kepalsuan belaka.

Kamis, 06 Februari 2014

DEKORASI KUE TART UNTUK PEMULA

DEKORASI KUE TART UNTUK PEMULA

BELAJAR MEMBUAT HIASAN BUNGA MAWAR DARI BUTTER CREAM

Menyajikan kue tart atau kue ulang tahun dengan dekorasi buatan sendiri tentu sangat membanggakan. Tidak perlu hiasan dengan teknik yang rumit, dengan bunga mawar butter cream, kue ulang tahun Anda sudah bisa tampil cantik mempesona. Selamat Berlatih. Dapur Uji/Teks/Foto: Budi Sutomo

Bahan:
Butter cream warna pink
Butter cream warna hijau

Alat:
Spuit mawar
Paku mawar
Piping bag/plastik segi tiga
Gunting

Cara Membuat:

1. Siapkan butter cream di dalam piping bag berisi spuit lubang bulat ukuran sedang. Semprotkan di atas paku mawar membentuk gumpalan lonjong ke atas sebagai dasar kelopak bunga.




2. Siapkan piping bag berisi butter cream dengan spuit mawar. Semprotkan dengan cara melingkari gumpalan. Arahkan spuit miring ke dalam, tarik ke atas dan kembali ke arah dalam sehingga membentuk kelopak.




3. Lakukan teknik yang sama seperti step 2 namun dengan ukuran kelopak semakin membesar.




4. Untuk kelopak paling luar, semporotkan butter cream lebih panjang karena memerlukan kelopak yang lebih besar.




5. Hasil akhir bunga mawar butter cream. Dinginkan sebentar di dalam kulkas agar butter cream lebih keras, mudah dipindahkan dan tidak mudah rusak.




6. Ambil hiasan mawar dengan gunting. Pindahkan ke atas kue tart yang telah disiapkan.




7. Beri pelengkap berupa daun dari butter cream warna hijau dengan menggunakan spuit daun.




Buku Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Buku Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berbasis FOSS untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA)

Belum lama ini (Oktober 2008), telah diterbitkan buku pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berbasis FOSS untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) dalam format elektronik (PDF) yang diterbitkan oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Komunikasi dan Informatika, Republik Indonesia. (Links download file buku TIK berbasis FOSS untuk SMA/MA dalam format elektronik (PDF) dari sini:
Dengan salah satu latar belakang utamanya yaitu: Berkaitan dengan IGOS; Pengenalan, penggunaan dan pemanfaatan open source dapat berlangsung sejak dini, dan sekaligus dapat menumbuhkembangkan kreativitas dalam menciptakan piranti lunak berbasis Open Source (saya kutip dari pengantar Buku tersebut). Penghargaan dan ucapan terima kasih untuk rekan-rekan penyusun buku TIK berbasis FOSS untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), Kementerian Negara Riset dan Teknologi bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Komunikasi dan Informatika.
Dengan diterbitkannya buku pelajaran TIK berbasis FOSS, tentu saja sebagai salah satu solusi bagi sekolah yang baru akan memulai menggunakan Free/Open Source Software (FOSS). Dan saya pribadi merasakan  tulisan saya tentang 9 Harapan Sekolah Untuk Program IGOS semakin mendekati kenyataan (Pengadaan buku paket mata pelajaran TIK sesuai kurikulum yang berlaku dengan FOSS sebagai program yang digunakannya. Terlepas dari kurikulum mata pelajaran TIK yang masih tumpang tindih, peranan buku tersebut sangat penting bagi guru dan siswa. Bagaimana guru dapat mengajarkan FOSS jika belum ada buku panduannya? Belum lagi guru harus belajar FOSS… Buku ini sekaligus menjawab pertanyaan orang tua yang mempertanyakan apakah FOSS layak untuk diajarkan di sekolah. Bahwa ternyata DepDikNas pun mendukung dan mengakuinya. Perlu juga mengadakan seminar tentang sosialisasi kebijakan DepDiknas dalam penerapan FOSS di sekolah..)
Buku tersebut menggunakan lisensi sebagai buku terbuka (Open Publication License). Siapapun dapat menggunakan, mempelajari, dan memperbanyak atau menyebarluaskan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam berbagai bentuk tanpa harus meminta izin kepada penerbit dan penyusunnya. Perangkat lunak atau program komputer yang digunakan sebagai bahan pembelajaran di buku pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berbasis FOSS untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) tersebut berlisensi bebas atau merdeka, lisensi yang menjadi ciri khas perangkat lunak FOSS. Para guru dan siswa dapat memperoleh semua program yang digunakan dalam buku tersebut tanpa harus membayar lisensi kepada pembuatnya. Perangkat lunak FOSS seperti sistem operasi Linux dan aplikasi OpenOffice.org dapat diperoleh dengan cara men-download dari Internet, meng-copy CD yang disertakan dalam buku atau majalah, atau membeli dari penyedia CD/DVD lainnya.
Besar harapan saya bahwa sekolah-sekolah di Indonesia semakin memperhatikan penggunaan software legal. Apakah nantinya akan menggunakan software berbayar (proprietary) atau FOSS. Untuk sekolah yang memilih menggunakan FOSS baik dalam kegiatan pembelajaran maupun administrasi sekolah, maka tentu saja lisensi software ini sudah tidak menjadi masalah lagi, tapi bagi sekolah yang memilih software proprietary, apakah software yang digunakan merupakan software legal atau tidak.
Sekolah sebagai tempat terbaik untuk mendidik generasi muda harapan bangsa semoga menjadi tempat terbaik bagi penerapan HAKI dan penggunaan software legal… :D
Update 17 Agustus 2010: Links download buku TIK SMA dan SMP berbasis FOSS:
Update 6 September 2011: Links download buku TIK SMA dan SMP berbasis FOSS:

Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar

Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar

Haiii,, Halooooo, saya akan share ilmu tentang Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar, dalam hal install windows ini masih banyak yang tidak mengetahui caranya, tapi kalau bagi siswa SMK yang mengambil jurusan komputer rata-rata bisa menginstall ulang komputer/laptop nya sendiri, bagi kamu yang belum bisa, ayo ikuti langkah2 menginstall ulang windows 7 dibawah ini. gampang kok :D

Pastikan kalo kita udah backup drivernya, agar setelah install gak perlu download lagi, bagi yang belum, baca aja disini Cara Backup Driver Windows Dalam 5 Menit. Jangan lupa juga copy file penting yang di Local C ke Local D, karena saat kita format, file yang di desktop, my document dan download akan hilang , karena termasuk dalam Local C.

Sebelum install windows 7, tentu saja kamu harus punya DVD Windows 7 yang masih baik kondisi nya, kalau udah rusak, buang saja , hihi, jika ada file windows iso, burn aja ke DVD, cara nya liat disini Cara Burning Windows 7 Ke CDVD

Oke, langsung aja Masukan DVD Windows 7 , lalu setting Bios agar boot ke CDROM, jika belum di setting, lihat disini Cara Setting Booting Bios Ke CDROM.

Jika sudah, akan ada tulisan Press Any Key To Continue, Enter aja.
Maka akan muncul seperti ini.

KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR :)

Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar
Ini jangan diubah, langsung next aja bro..
Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar
Pilih Install now
Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar
Centang I accept the license terms, lalu next..
Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar
Pilih Custom..
Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar
Pilih Partisi yang akan di isi dengan Windows 7, karena ini hanya ada 1 partisi, maka langsung saja, tetapi di laptop/PC anda pasti ada beberapa partisi, pilih yang partisi C, sekitar 100GB, bisa di cek di MyComputer..
Karena ada pertanyaan dari teman yaitu cara nya agar data2 saya yang lain tidak hilang, dan yang dihapus cuma windows 7 nya bagaimana?

Penjelasan
Ini cukup sulit dijawab, karena data dan disk di setiap komputer/laptop berbeda, tetapi saya akan menjelaskan garis besarnya..
Secara umum, file windows yang akan kita format dan kita install ulang berada di local disk C yang berkapasitas kurang lebih 100 GB, dan data2 kita terletak di Local Disk D, atau E, dan seterusnya, jadi kita hanya perlu masuk ke windows 7, dan buka disk C, kira2 isi file nya seperti ini
Jika isinya seperti gambar diatas, maka disk C itulah yang akan kita gunakan untuk diformat dan diinstall ulang, jika tidak, lihat di local disk yang lain.
----------------------------------

Oke, setelah tau, maka kita kembali lagi ke proses install, pilih disk yang berisi windows dan klik Drive Options, lalu Format. Setelah Format lalu Next, windows akan memulai install, kira2 30 menit,
Tips Cara Mempercepat Koneksi Internet Kata Kata Mutiara Bijak Pilihan Terbaik
Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar 
Tunggu Proses Install.. Setelah itu PC akan restart sendiri beberapa kali, tunggu saja..
Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar
Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar
Masukan Username (Nama Kamu) dan nama Komputer
Masukan Passwordd, jika tidak ingin menggunakan password, langsung next aja.
Masukan kalo kamu punya Serial Key, kalo gak punya ya hilangkan Centang nya dan next, windows kamu akan trial dan expired dalam jangka waktu tertentu, bisa menggunakan Windows Loader agar windows kamu menjadi full version, search aja windows loader di google :)

Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar
 Pilih Ask Me Later
Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar
Atur Waktu diwilayah Anda
Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar
Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar
Keluar kan CD nya, SELESAI !
Setelah selesai install windows, sekarang tinggal install drivernya, liat aja di Cara Install Driver Yang Sudah Di Backup ..

MASALAH yang sering terjadi saat install adalah  berhentinya proses install ataupun error, kemungkinan besar ini disebabkan oleh rusaknya DVD windows anda, dan juga masalah pada Harddisk, kamu bisa mencoba menginstall di laptop kawan ataupun menggunakan DVD lain untuk mengetahui apa yang rusak.

Terimakasih telah membaca artikel Cara Install Ulang Windows 7 Lengkap+Gambar.

PTK IPA & PKN SD KELAS Iv


PTK IPA & PKN SD KELAS IV

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA
MELALUI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME
PADA MATA PELAJARAN IPA DAN PKn



(Laporan)








Oleh

P A R
NIM : 815 435 634













UNIVERSITAS TERBUKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDKAN
UPBJJ-UT BANDAR LAMPUNG
2009.2


LEMBAR PENGESAHAN

1.
Judul Laporan
:
UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME PADA MATA PELAJARAN IPA DAN PKn SD NEGERI  2  KEPUTRAN KEC. SUKOHARJO TAHUN PELAJARAN 2009/2010
2.   Identitas Peneliti                          :

N A M A                                       : P A R
NIM                                               : 815 435 634
PROGRAM STUDI                    : S-1 PGSD
MASA UJIAN                              : 2009.2BONGNGSEWU
 

3.   Lokasi Penelitian                         :

NAMA SEKOLAH                      : SD NEGERI 2 KEPUTRAN
KELAS                                         : IV (EMPAT)
MATA PELAJARAN                  : IPA  DAN  PKn
ALAMAT                                      : Keputran Kec. Sukoharjo
                                                        Kab. Pringsewu
 

4.   Lama Penelitian                        : 1 Bulan (3 Siklus Pembelajaran)


Pringsewu,     Nopember 2009
Mengetahui                                            Mahasiswa
Supervisor



Drs. ERI SETIAWAN, M.Si.                 P A R I N I
NIP. 1958111019883 1 002               NIM.  815 435 634

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Tuhan Seru sekalian Alam, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang setia mengagungkan asma-Nya. Atas Rahmat tersebut kami dapat menyelesaikan penelitian dan laporannya dari awal hingga akhir alhamdulillah berjalan lancar, sesuai dengan yang diharapkan.

Laporan yang amat sederhana ini disusun sebagai tugas akhir perkuliahan Universitas Terbuka Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program S-1 PGSD pada mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP).

iii
Kepada semua pihak (tidak dapat kami sebutkan satu persatu) yang memberikan bantuan baik moril naupun materiil hingga terselesaikannya penyusunan dan penulisan laporan ini, kami tidak bisa memberikan apa-apa kecuali hanya bisa berdoa semoga akan mendapat imbalan yang setimpal dari Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca dan kami berharap kiranya laporan ini ada manfaatnya, khususnya bagi kami pribadi dan umumnya kepada segenap pembaca sekalian. Amin.



         Nopember 2009

Hormat Kami,




PARINI
NIM.  814 646 112
















iv


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL             ………………………………………….           i
LEMBAR PENGESAHAN   ……………………………………………...    ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................           iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................            v
DAFTAR TABEL............................................................................................          vii

BAB   I                    :  PENDAHULUN
                                                                    i.      Latar Belakang Masalah ...........................................             1
                                                                  ii.      Rumusan Masalah .....................................................             4
                                                                iii.      Tujuan Penelitian ......................................................             4
                                                                iv.      Manfaat dan Kegunaan Penelitian ...........................             5

BAB  II                     :  KAJIAN PUSTAKA
A.    Pengertian Aktivitas ............................................             6
B.     Pengertian Hasil Belajar ......................................             6
C.     Pengertian Pembelajaran Konstruktivisme ..........           11

BAB  III                    :  PELAKSANAAN PENELITIAN
                                      A.  Subjek Penelitian ..........................................................    13
                                      B.  Deskripsi Per Siklus .............................................          14

v   

BAB  IV                    :  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN  
                                     A. Deskripsi Hasil Penelitian ......................................           18
                                          1. Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa .................           18
                                          2. Peningkatan Hasil Belajas Siswa .......................           19
                                     B. Pembahasan ...........................................................           19
                                          1. Siklus I ...............................................................           19
                                          2. Siklus II .............................................................           22
                                          3. Siklus III ............................................................           25

BAB    V                     : KESIMPULAN DAN SARAN
                                      A.  Kesimpulan ..........................................................           28
                                      B. Saran......................................................................           29

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN








vii
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA
MELALUI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME
PADA MATA PELAJARAN IPA DAN PKn



(Laporan)










Oleh

P A R I N I
NIM : 815 435 634











UNIVERSITAS TERBUKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDKAN
UPBJJ-UT BANDAR LAMPUNG
2009.2


LEMBAR PENGESAHAN

1.
Judul Laporan
:
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME PADA MATA PELAJARAN IPA DAN PKn SD NEGERI 2 KEPUTRAN TAHUN PELAJARAN 2009/2010

 

2.   Identitas Peneliti                          :

N A M A                                       : P A R I N I
NIM                                               : 815 435 634
PROGRAM STUDI                    : S-1 PGSD
MASA UJIAN                              : 2009.2
KELOMPOK BELAJAR                        : PRINGSEWU
 


3.   Lokasi Penelitian                         :

NAMA SEKOLAH                      : SD NEGERI 2 KEPUTRAN
KELAS                                         : IV (EMPAT)
MATA PELAJARAN                  : IPA DAN PKn
ALAMAT                                      : Keputran Kec. Sukoharjo
                                                        Kab. Pringsewu
 


4.   Lama Penelitian                        : 1 Bulan (3 Siklus Pembelajaran)


Pringsewu,     Nopember 2009
Mengetahui                                            Mahasiswa
Supervisor



Dra. NURHAYANI, M.Pd.                     P A R I N I
NIP. 131973749                                 NIM.  815 435 634

BAB I
PENDAHULUAN

A.          Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan “human investment” yang berarti secara historis maupun filosofis, pendidikan mewarnai dan sebagai landasan moral dan etika dalam pembentukan jati diri bangsa. Sebagai otentik yang dinyatakan dalam tujuan Pendidikan Nasional. Sasaran pendidikan yang dimaksud dalam tujuan Pendidikan Nasional adalah tercapainya manusia Indonesia seutuhnya dengan ciri utama beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, disertai dengan kemmapuan untuk melaksanakan berbagai atribut dimensi secara kognitif, afektif dan psikomotorik.

Pendidikan merupakan variabel yang tidak dapat diabaikan dalam mentransformasikan pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Pendidikan memiliki dua fungsi utama yaitu fungsi konservatif dan fungsi progresif. Fungsi konservatif pendidikan adalah bagaimana untuk mempertahankan dan mewariskan identitas dan cita-cita suatu masyarakat. Sedangkan fungsi progresif pendidikan adalah sebagaimana aktifitas pendidikan adalah yang dapat memberikan pembekalan dan pengembangan pengetahuan serta nilai-nilai keterampilan kepada generasi penerus sehingga memiliki kemampuan dan kesanggupan dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa depan yang semakin kompleks.
1
2
Menyikapi kondisi yang semakin kompleks  seperti  sekarang  ini, guru dituntut mampu membekali para siswa berbagai keterampilan yang dipandang urgent dalam kehidupan. Hal yang paling utama dipersiapkan adalah adanya keterampilan bernalar dan bersikap menempatkan sesuatu yang tepat pada tempatnya. Maka dalam hal ini guru lah yang dipandang paling berperan untuk mengarahkan siswanya pada tataran persiapan menyongsong kehidupan sebenarnya kelak. Kegagalan guru dalam mengarahkan dan mengembangkan ilmu dan keterampilannya di sekolah akan mengakibatkan hancurnya masa depan anak-anak dewasa kelak.    
Kegagalan dan merosotnya  penghayatan masyarakat terhadap nilai-nilai sosial dan etike, kenakalan remaja dan sebagainya yang terjadi selama ini sering dianggap sebagai miseducation (salah asuhan) dan  faktor penentu yang diharapkan mampu memperbaikinya adalah guru. Oleh sebab itu salah satu upaya untuk mengantisipasi kemerosotan nilai-nilai sosial dan etike di tengah masyarakat terutama di kalangan generasi muda adalah dengan cara membenahi proses pendidikan. Di sinilah relevansinya untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan pendidikan secara terpadu dan simultan, baik secara formal, non-formal, maupun in-formal.
Salah satu komponen pembelajaran yang perlu terus dikembangkan dan ditingkatkan kemampuannya adalah komponen guru, dalam hal ini adalah kompetensinya. Komponen guru merupakan salah satu komponen terpenting dalam pendidikan nilai, karena posisinya sebagai sumber belajar dan sumber identifikasi  nilai moral dan sumber keteladanan bagi peserta didik. Keberadaan guru adalah sangat penting dan tidak bisa digantikan  oleh  sumber-sumber lain,
3
 karena peran guru tidak hanya semata-mata sebagai transfer of knowledge saja, tetapi guru masih berperan sangat penting dan dominan, sehingga apabila guru tidak berkompeten terutama dalam pembentukan kepribadian pada siswa, maka tidak akan menghasilkan apa-apa. Peran guru yang sebenarnya adalah sebagai fasilitator, namun yang perlu mendapat penekanan itu adalah kemampuan guru mensupport para siswanya untuk mampu mengembangkan kreativitasnya dan membangun sendiri pengetahuan yang datang dari luar, sehingga terbangunlah pengetahuan dan keterampilan mengkonstruksi kognitif yang ada terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungan. Para penganut konstruktivisme berpendapat bahwa pengetahuan itu adalah merupakan konstruksi dari kita yang sedang belajar.
Sebagai guru yang merupakan jabatan fungsional di bidang pendidikan dengan sendirinya juga dituntut dalam keahlian, pengetahuan dan keterampilan tertentu atau yang disebut sebagai sebuah kompetensi guru. Secara minimal guru memiliki kompetensi kepribadian (personal) dan kompetensi kemasyarakatan (sosial).
Guru bukan hanya bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri tetapi lebih dari itu yaitu tanggung jawab kepada masyarakat luas, bukan bertanggungjawab untuk satu generasi melainkan sampai ke generasi selanjutnya. Untuk menimbuhkan sikap aktif, kreatif, inovatif dari siswa tidaklah mudah. Fakta yang terjadi adalah guru dianggap sebagai sumber belajar yang paling benar.
Di sisi lain rendahnya kreatifitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA merupakan salah satu indikasi bahwa pembelajaran yang dilakukan guru perlu intuk dicermati lebih serius lagi.  Hal yang  lazim  dijumpai  dalam   suatu
4
 pembelajaran yang mengakibatkan rendahnya prestasi siswa di antaranya : (1) kegiatan pe,belajaran masih banyak didominasi oleh guru; (2) rendahnya semangat belajar siswa; (3) banyaknya siswa yang tidak berani bertanya atau mengemukakan pendapat; (4) metode pembelajaran yang digunakan kurang bervariatif (monoton); (5) media pembelajaran yang terbatas.
Salah satu tawaran yang dapat dijadikan acuan dalam mengatasi rendahnya kreativitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA dan PKn di SD Negeri 2 Keputran Kec. Sukoharjo adalah dengan melalui pembelajaran konstruktivisme,  yaitu usaha maksimal untuk mengkonstruksi pemahaman bagi siswa atas apa yang dipelajarinya.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana meningkatkan aktivitas dan hasil    belajar siswa kelas IV SD Negeri 2 Keputran pada mata pelajaran IPA dan PKn melalui pembelajaran konstruktivisme ?

C.    Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini mempunyai tujuan : Mendeskripsikan/menganalisis dampak pelaksanaan pembelajaran konstruktivisme dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil  belajar  siswa  kelas  IV  pada  mata   pelajaran  IPA  dan  PKn  di    SD Negeri 2 Keputran Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu Propinsi Lampung Tahun Pelajaran 2009/2010.

5
D.   Manfaat dan Kegunaan Penelitian
Manfaat dan kegunaan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
  1. Dapat memberikan sumbangan dan kontribusi terhadap peranan guru Mata Pelajaran IPA dan PKn sebagai perwujudan profesionalisme guru dalam pembelajaran dan pendekatan  Konstruktvisme
  2. Dapat memberikan informasi yang memadai mengenai peranan guru yang berkaitan dengan prestasi belajar baik dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang diwujudkan dalam perilaku, kepribadian dan kemandirian siswa
  3. Memberikan informasi yang berharga untuk kalangan akademisi atau para peneliti yang akan mengkaji bahwa peranan guru merupakan komponen yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dalam sistem pendidikan secara umum (universal).












BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Pengertian Aktivitas Belajar
Pada prinsipnya belajar itu adalah berbuat “Learning by doing” dan memegang peranan penting dalam menunjang prestasi belajar. The Liang Gie (1981 : 6) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan aktivitas belajar adalah segenap rangkaian atau aktivitas belajar yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa perubahan pengetahuan atau kemahiran yang sifatnya sedikit banyak permanen”.

Sardiman (2006 : 100) menyatakan aktivitas belajar dibagi menjadi aktivitas fisik dan aktivitas mental. Aktivitas fisik adalah peserta didik giat aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain atau bekerja, tidak hanya duduk mendengarkan, melihat atau pasif. Peserta didik yang memiliki mental adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya atau berfungsi dalam rangka pembelajaran.

B.     Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang telah dicapai seseorang setelah ia mengalami proses belajar, dengan terlebih dahulu mengadakan evaluasi dari proses belajar yang dilakukan atau yang dilaluinya. Penilaian hasil belajar perlu dilakukan oleh guru untuk mengetahui sejauh mana tujuan untuk instruksional yang telah diajarkan dalam kegiatan pembelajaran yang telah dikuasai siswa. Dalam   istilah   yang lebih umum hasil belajar disamakan dengan
6
7
Sebuah prestasi. Berikut ini akan paparan definisi tentang prestsi menurut pendapat para ahli :
a.       Menurut Kamus Umum W.J.S Poerwadarminta, prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan dan sebagainya).
b.      Dalam Kamus Edisi Ketiga (2000) didefinisikan bahwa prestasi adalah hasil yang telah diperoleh (dicapai dan lain-lain) ataupun pencapaian terhadap sesuatu.
c.       L.W.Rue (1993) berpendapat bahwa prestasi adalah hasil pencapaian tugas yang merujuk kepada kerja bagi setiap individu.
d.      Philip Ricciardi (1996) menyatakan pula bahwa prestasi merupakan hasil yang berhasil dicapai dengan kuantitas tertentu atau nilai kerja yang dilakukan terhadap pelajaran atau hasil belajar. Menurut beliau juga, prestasi merupakan suatu kebolehan untuk menghasilkan sesuatu yang benar dengan cara yang benar dan dilakukan pada saat yang tepat dalam suatu usaha yang bersesuaian.
Menurut Tuty Haryati definisi dari prestasi adalah suatu hasil luar biasa/dahsyat yang telah dicapai. Menurutnya pula prestasi merupakan sebuah keberhasilan berstandar tinggi yang citranya hanya diperoleh segelintir orang. Dengan kemampuan   berfikir  dan  menilai,  prestasi   diasumsikan  sebagai kesuksesan
dengan ukuran yang ditentukan sendiri berdasrakan hasil penilaian yang eksternal. Dengan nilai yang tinggi, beliau juga memaknai prestasi sebagai barang mewah dimana hanya sedikit orang saja yang sanggup menyandangnya.
Dari beberapa definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa:

8
a.       Prestasi adalah hasil pencapaian terhadap tugas yang diberikan kepada individu maupun organisasi.
b.      Prestasi tidak mengandung konotasi negatif, artinya keberhasilan dalam kebaikan, karena semua orang selalu mngharapkannya.
Jadi istilah prestasi lebih terkesan pada sebuah hasil yang dicapai setelah melalui upaya yang sungguh-sungguh. Baik hasil yang dimaksudkan merupakan hasil yang bersifat kuantitatif daupun kualitatif.

Sedangkan kata belajar berasal dari kata dasar “ajar” yang mendapat awalan ber- menjadi belajar, yang berarti “berusha supaya memperoleh kepandaian, ilmu dan sebagainya.”
Pengertian tentang belajar itu sangat kompleks, sehingga banyak pengertian yang dapat diambil dari padanya. Akan tetapi belajar mempunyai cirri–ciri kegiatan yang antara lain adalah: “Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui suatu pengalaman atau latihan.”
Manusia belajar dengan tujuan agar terjadi perubahan di dalam aspek kehidupannya, baik manusia itu sebagai makhluk psichophisis maupun sebagai makhluk socioindividual ataupun sebagai makhluk culturreligius.

Untuk lebih memperjelas tentang pengertian belajar, maka penulis perlu mendefinisikan pengertian belajar menurut pemikiran para ahli. Walaupun terjadi perbedaan yang dipengaruhi oleh sudut pandang yang berbeda, tetapi pada prinsipnya mempunyai titik persamaan.
Agoes Soejanto mendefinisikan belajar adalah sebagai berikut:

9
“Belajar adalah suatu proses perubahan yang terus menerus pada diri manusia karena usaha untuk mencapai ke arah kehidupan atas bimbingan tentang cita-citanya dan sesuai dengan cita-cita dan falsafahnya”.
Berbeda dengan Agoes Soejanto, Prof. Dr. Nasution dalam bukunya mengemukakan bahwa:
“Belajar adalah perubahan-perubahan dalam sistem urat syaraf ….. Definisi lain belajar adalah penambahan atau pengetahuan …… Definisi ketiga merumuskan bahwa belajar adalah sebagi perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan”.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut ditinjau dari sudut peristiwa yang terjadi pada sitem psichophisis seseorang yang melakukan belajar berarti suatu proses bekerjanya sistem urat saraf dimana berbagai perubahan terjadi didalamnya.
Ditinjau dari sikap individu dalam menghadapi objek yang dipelajari, belajar dalah suatu kegiatan menyusun dan mengatur lingkungn dengan sebaik-baiknya, sehingga lingkungan tersebut terserap oleh individu yang bersangkutan.
Jika ditinjau dari segi kegiatannya, belajar adalah suatu kegiatan untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pegetahuan dan pengembangan tertentu dari sikap-sikap bagi orang yang melakukannya.
Dari uraian di atas, belajar mempunyai beberapa pengertian yaitu yang pertama bahwa belajar merupakan perubahan-perubahan dari proses bekerjanya urat syaraf. Kedua belajar mepunyai arti kemampuan menyusun dan mengatur lingkungan dengan  sebaik–baiknya  dan  yang  ketiga  belajar merupakan suatu
10
proses untuk memperoleh pengertian dan pengembangan sikap. Ditinjau dari masanya (modern dan tidaknya), belajar memiliki dua pengertian, yaitu:
a. Menurut Pendapat Tradisional
Menurut pendapat tradisional, belajar adalah: “menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan (Nasution, Azas-Azas Kurikulum)
Berdasarkan pendapat ini belajar merupakan suatu proses pengumpulan bermacam-macam pengetahuan sebanyak-banyaknya. Jadi yang diutamakan dalam belajar menurut pendapat ini adalah pendidikan intelek, dimana anak didik diberikan beraneka ragam pelajaran untuk menambah pengetahuan terutama dengan jalan menghafal. Dalam hal ini kemampuan untuk menerapkan ilmu yang diperoleh (praktik) kurang diutamakan.
b.Menurut Pendapat Modern
Menurut pendapat modern, belajar adalah: “a change a behavior” atau perubahan tingkah laku seperti yang telah di definisikan oleh Ernest R. Hilgard:
“Learning is the process by wick an activity originates or is changed through training procedures (weather in the laboratory or in the natural environment), as distinguished from changes by factors not attributable to training.

Dalam definisi tersebut dikemukakan bahwa seseorang itu belajar apabila ia dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya ia tidak dapat melakukan atau mengerjakan. Dan adanya perubahan tingkah laku apabila ia menghadapi suatu keadaan.

11
C.     Pengertian Pendekatan Konstruktivisme
Para penganut konstruktivisme (Paul Suparno, 19997 dalam Hera Lestari Mikarsa, 2007) berpendapat bahwa pengetahuan itu adalah merupakan konstruksi dari kita yang sedang belajar. Pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, tetapi merupakan konstruksi   kognitif    seseorang    terhadap    objek,    pengalaman,    maupunlingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada di sana dan orang tinggal mengambilnya, tetapi merupakan suatu bentukan terus menerus dari seseorang yang setiap kali mengadakan reorganisasi karena munculnya pemahaman yang baru.
Von Glaserveld menyebutkan beberapa kemampuan yang diperlukan untuk proses pembentukan pengetahuan itu, seperti (1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, (2) kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan, dan (3) kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada yang lain. Von Glaserfeld membedakan tiga level konstruktivisme dalam kaitan hubungan pengetahuan dan kenyataan, yakni konstruktivisme radikal, realisme hipotesis, dan konstruktivisme yang biasa.
Dengan mengacu pada pandangan konstruktivisme, Bredekamp dan Rosegrant (1992) akhirnya menyimpulkan bahwa anak akan belajar dengan baik dan bermakna apabila dalam proses pembelajaran tersebut : (1) anak merasa aman secara psikologis serta kebutuhan-kebutuhan fisiknya terpenuhi, (2) anak mengonstruksi pengetahuan, (3) anak belajar melalui interaksi sosial dengan orang dewasa dan anak-anak lainnya, (4) anak belajar melalui bermain,
12
(5) minat dan kebutuhan anak untuk mengetahui dapat terpenuhi, dan (6) unsur variasi individual anak diperhatikan.
Selanjutnya  M. Sholehudin (1999) merumuskan sejumlah pemikiran yang memungkinkan aktivitas belajar anak SD lebih bermakna dengan menerapkan prinsip   konstruktivisme.   Pandangan   ini   menghendaki   para   guru  untuk menerapkan pendekatan mengajar yang berpusat pada anak (child-centered teaching approach), yaitu :
1.            Orientasi mengajar tidak hanya pada segi pencapaian prestasi akademik
2.            Untuk membuat pelajaran bermakna bagi anak, topik-topik yang dipilih dan dipelajari didasarkan pada pengalaman-pengalaman anak yang relevan.
3.            Metode mengajar yang digunakan harus membuat anak terlibat dalam suatu aktivitas langsung dan bersifat bermain yang menyenangkan.
4.            Dalam proses belajar, kesempatan anak untuk bermain dan bekerja sama dengan orang lain perlu diprioritaskan.
5.            Bahan-bahan pelajaran yang digunakan hendaknya bahan-bahan yang kongkret, dan kalau mungkin dengan bahan yang sebenarnya.
6.            Dalam menilai hasil belajar siswa, guru tidak hanya menekankan aspek kognitif (dengan tes tulis) saja, tetapi mencakup seluruh domain perilaku anak yang relevan dengan dengan melibatkan sejumlah alat penilaian.
7.            Ide di atas akhirnya mengimplikasikan perlunya para guru menampilkan peran utama sebagai guru dalam proses pembelajaran anak, dan bukannya sebagai transmitor pengetahuan kepada anak.









BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN
A.          Subjek Penelitian
2.      Lokasi Penelitian
Penelitian sebagai perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan di kelas IV semester satu SD Negeri 2 Keputran Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu Lampung, yaitu di kilometer 8 Pringsewu arah Kalirejo.
3.      Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih satu bulan yaitu mulai tanggal 01 Oktober sampai dengan 31 Oktober 2009, dengan 12 jam pelajaran (6 kali pertemuan). Siswa yang menjadi subjek penelitian ini berjumlah 23 orang siswa, yang terdiri dari 16 orang laki-laki dan 7 orang perempuan. Penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti (guru  bidang  study), seorang obsever, dan kepala Sekolah sebagai penanggung jawab. Sebagai gambaran kongkret jadwal penelitian ini adalah :
Tanggal 06 Oktober 2009 untuk mata pelajaran IPA siklus I
Tanggal 13 Oktober 2009 untuk mata pelajaran IPA siklus II
Tanggal 20 Oktober 2009 untuk mata pelajaran IPA siklus III
Tanggal 09 Oktober 2009 untuk mata pelajaran PKn siklus I
Tanggal 16 Oktober 2009 untuk mata pelajaran PKn siklus II
Tanggal 23 Oktober 2009 untuk mata pelajaran PKn siklus III
4.      Mata Pelajaran
Adapun mata pelajaran yang di teliti adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
13
14
5.      Kelas
Kelas yang dijadikan tempat penelitian ini adalah Kelas IV SD Negeri 2 Keputran Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu.
6.      Karakteristik Siswa
Secara umum keberadaan siswa kelas IV SD Negeri 2 Keputran tergolong anak yang biasa-biasa, baik ditinjau dari segi kecerdasan (intellegensia) maupun kepribadian dan moralitasnya. Namun dari segi latar belakang keluarganya, mereka cukup beragam. Secara ekonomi keluarga mereka cukup beragam, mulai dari ekonomi klas rendah (yang mayoritas), ekonomi menengah, dan ekonomi klas tinggi (walaupun tidak terlalu banyak namun juga ada beberapa anak yang berasal dari keluarga mampu). Demikian juga latar belakang pendidikan keluarga (orang tua murid) amat beragam, mulai dari SD sampai yang Sarjana.

B.           Deskripsi Per Siklus
Adapun pelaksanaan penelitian ini melalui langkah siklus sebanyak tiga siklus,  dan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu : Perncanaan (planning), Pelaksanaan (acting), Pengamatan (observing) dan Refleksi (reflecting) (Suharsini Arikunto, 2006).  
1.      Perencanaan
b.            Menyusun jadwal mengajar
c.             Membuat perangkat pembelajaran
d.            Menyusun skenario pembelajaran sesuai dengan materi yang akan disampaikan
15
e.             Mempersiapkan media pembelajaran yang akan dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran
f.             Mempersiapkan lembar observasi dan catatan lapangan
2.      Pelaksanaan
Tahap ini merupakan pelaksanaan dari tahap perencanaan, yang meliputi :
a.             Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang dicapai dan membagi kelompok belajar;
b.            Guru memotivasi siswa agar belajar bersama dalam kelompok dan bertanggung jawab pada kelompoknya;
c.             Guru menyampaikan materi yang telah ditentukan dan mengefektifkan diskusi kelompok, serta bertanya jawab;
d.            Guru bersama teman sejawat mengamati proses kegiatan diskusi kelompok yang sedang berlangsung dan guru memberikan bimbingan pada siswa;
e.             Setiap kelompok menulis hasil kerja kelompoknya di papan tulis, diwakili oleh salah satu siswa dari kelompoknya dan memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk menanggapinya;
f.             Guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi;
g.            Guru memberikan tes tertulis secara individu di akhir siklus;
h.            Siswa yang mendapat nilai kurang dari 65 dan rata-rata nilai yang kurang dari ketentuan mnimal, maka dilakukan perbaikan.
3.      Pengamatan/Pengumpulan Data
Dalam pengamatan penelitian tindakan kelas  ini peneliti bekerja sama dengan  guru  (teman sejawat)  yaitu    seorang    guru    dari    SD  Negeri 2
16
Keputran, yang bertugas mengamati selama proses kegiatan pembelajaran berlangsung. Hasil pengamatan ini dituangkan dalam catatan lapangan yang telah dipersiapkan.
1)      Lembar Pengamatan 1 adalah data skunder (data yang berasal dari selain subjek) yang digunakan untuk menilai kinerja guru dalam rencana pelaksanaan pembelajaran.
2)      Lembar pengamatan 2 adalah data skunder (data yang berasal dari selain subjek) yang digunakan untuk menilai kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran.
3)      Lembar Pengamatan 3 adalah data primer yang digunakan untuk menilai aktivitas belajar siswa pada setiap siklus.

4.      Refleksi
Refleksi ini merupakan kegiatan dalam menganalisis, memahami dan membuat kesimpulam berdasarkan hasil pengamatan dan catatan lapangan. Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tes dan observasi, serta menentukan perkembangan kemajuan dan kelemahan yang terjadi, sebagai dasar perbaikan pada siklus berikutnya.
Pada siklus II, pelaksaannya berdasarkan refleksi dari siklus I dan pelaksanaannya pun sama, yaitu terdiri dari empat tahap pelaksanaan : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Namun dalam proses kegiatan pembelajaran siklus II ini telah banyak ditemukan kelemahan-kelemahan apada siklus I dan di sini diadalan perbaikan.

17
Pada siklus III, pelaksaannya berdasarkan refleksi dari siklus II dan pelaksanaannya pun sama, yaitu terdiri dari empat tahap pelaksanaan : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Namun dalam proses kegiatan pembelajaran siklus III ini telah banyak dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan dari kelemahan-kelemahan pada siklus II. Jadi pada silkus ini merupakan siklus pamungkas dalan perbaikan.



















BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Hasil Penelitian
1.      Hasil/Temuan yang Diperoleh
Pada setiap akhir pembelajaran siklus I, II, dan III, selalu diadakan tes evaluasi dan pengamatan. Hasil tersebut akan disajikan dalam bentuk tabel yang memuat isi keseluruhan hasil / temuan yang diperoleh selama melaksanakan penelitian. Hasil tersebut diperoleh dari catatan-catatan peneliti sendiri dan catatan-catatan guru pendamping atau teman sejawat.
Tabel 1 : Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa Mata Pelajaran IPA
NO
NAMA SISWA
SIKLUS
I
II
III
1
Ambar Asmoro
40
55
65
2
Ajeng Trisnawati
55
64
70
3
Adi Setiawan
60
71
79
4
Bela Rahmawati
61
73
81
5
Imam Riski
72
81
93
6
Septi Handayani
43
55
65
7
Miftahul Huda
35
47
55
8
Siska Fitri F
67
75
89
9
Kurniawan
71
82
93
10
Calxashoriq
74
86
95
11
Retno Adelia
55
65
75
12
Dani Ramadani
37
43
56
13
Dwi Yan Gilang
65
75
86
14
Salma Q
67
77
87
15
Erik Aprianto
60
71
85

18
19
16
Ican Pradana
73
81
84
17
Sandi Bagus
41
51
65
18
M. Baret S
43
55
66
19
Yusuf Ramadhan
70
81
94
20
Abdul Aziz
61
74
87
21
Samsul Haris
55
65
74
22
Siska Kemala
34
47
53
23
Ilham
65
66
77
JUMLAH
1304
1540
1774
RATA-RATA
56,69
66,95
77,13

Tabel 2 : Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa Mata Pelajaran PKn
NO
NAMA SISWA
SIKLUS
I
II
III
1
Ambar Asmoro
45
56
65
2
Ajeng Trisnawati
54
60
71
3
Adi Setiawan
60
69
77
4
Bela Rahmawati
62
70
81
5
Imam Riski
74
83
95
6
Septi Handayani
45
53
65
7
Miftahul Huda
36
45
55
8
Siska Fitri F
65
74
83
9
Kurniawan
70
81
90
10
Calxashoriq
75
84
93
11
Retno Adelia
53
63
74
12
Dani Ramadani
35
45
54
13
Dwi Yan Gilang
66
74
83
14
Salma Q
65
75
86
15
Erik Aprianto
61
67
77
16
Ican Pradana
72
85
95

20
17
Sandi Bagus
40
50
64
18
M. Baret S
45
56
66
19
Yusuf Ramadhan
71
82
91
20
Abdul Aziz
66
77
88
21
Samsul Haris
50
60
70
22
Siska Kemala
45
56
67
23
Ilham
55
65
74
JUMLAH
1310
1466
1765
RATA-RATA
56,95
63,73
76,73

Tabel 3 : Hasil Ulangan Harian Siswa Mata Pelajaran IPA
NO
NAMA SISWA
SIKLUS
I
II
III
1
Ambar Asmoro
40
55
65
2
Ajeng Trisnawati
55
64
70
3
Adi Setiawan
60
71
79
4
Bela Rahmawati
61
73
81
5
Imam Riski
72
81
93
6
Septi Handayani
43
55
65
7
Miftahul Huda
35
47
55
8
Siska Fitri F
67
75
89
9
Kurniawan
71
82
93
10
Calxashoriq
74
86
95
11
Retno Adelia
55
69
75
12
Dani Ramadani
37
43
56
13
Dwi Yan Gilang
65
75
86
14
Salma Q
67
77
87
15
Erik Aprianto
60
71
85
16
Ican Pradana
73
81
84
17
Sandi Bagus
41
51
70

21
18
M. Baret S
43
65
80
19
Yusuf Ramadhan
70
81
94
20
Abdul Aziz
61
74
87
21
Samsul Haris
55
65
74
22
Siska Kemala
34
47
53
23
Ilham
65
66
77
JUMLAH
1319
1553
1793
RATA-RATA
57,34
67,52
77,95

Tabel 4 : Hasil Ulangan Harian Siswa Mata Pelajaran PKn
NO
NAMA SISWA
SIKLUS
I
II
III
1
Ambar Asmoro
50
56
65
2
Ajeng Trisnawati
54
60
71
3
Adi Setiawan
60
69
77
4
Bela Rahmawati
62
70
81
5
Imam Riski
74
83
95
6
Septi Handayani
45
53
65
7
Miftahul Huda
36
45
55
8
Siska Fitri F
65
74
83
9
Kurniawan
70
81
90
10
Calxashoriq
75
84
93
11
Retno Adelia
53
63
74
12
Dani Ramadani
35
45
54
13
Dwi Yan Gilang
70
74
83
14
Salma Q
70
75
86
15
Erik Aprianto
61
67
77
16
Ican Pradana
72
85
95
17
Sandi Bagus
40
50
65
18
M. Baret S
45
56
66